Obat Lemahnya Iman

Sungguh, perhatian terhadap keimanan adalah masalah yang sangat urgen. Dengan keimanan seorang hamba dapat meraih kebahagian di dunia dan akherat. Sebaliknya, iman yang tipis atau bahkan hilang sama sekali adalah sumber kebinasaan.

Imam Ibnul Qoyyim mengatakan: “Perkara yang paling afdhal untuk diraih oleh jiwa dan hati yang dengannya seorang hamba dapat meraih kesuksesan di dunia dan akherat adalah ilmu dan keimanan”.[1]

Dengan demikian jelaslah, keimanan adalah sumber kebahagiaan. Akan tetapi, iman seorang manusia pasti akan mengalami naik dan turun, sesuai dengan kadar ketaatan dan kemaksiatannya. Apakah kita akan membiarkan begitu saja ketika iman mulai melemah? Ataukah kita akan mencari obat mujarab yang bisa melejitkan keimanan kita? Simak ulasan berikut ini. Allahul Muwaffiq.

Sebab-sebab Lemahnya Iman

Tidak ada suatu kejadian yang terjadi begitu saja, pasti ada sebab dan musababnya. Iman yang melemah, malas dan tidak ada semangat dalam ketaatan tentulah ada sebab yang melatar belakanginya, diantaranya;

1.Kebodohan

Kebodohan adalah sebab terbesar lemahnya iman. Iman yang melemah hingga dia terjatuh dalam kemaksiatan tiada lain karena minimnya pengetahuan yang dia miliki. Orang yang berilmu, dirinya akan senantiasa terjaga dengan ilmunya, imannya akan terlindungi dengan cahaya ilmu yang dia miliki.

Imam Ibnul Qoyyim mengatakan: “Keimanan yang hakiki akan membawa pemiliknya untuk melakukan perkara yang bermanfaat baginya dan meninggalkan bahaya yang mengancam dirinya. Apabila tidak melakukan ini dan meninggalkan itu, maka keimanannya tidak diatas kebenaran”.[2]

Oleh karena itu, al-Qur’an sering memberi isyarat bahwa kejahilan adalah sebab terjadinya dosa dan kemaksiatan. Perhatikan ayat-ayat berikut ini;

Bani lsrail berkata: “Hai Musa, buatlah untuk Kami sebuah Ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Ilah (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Ilah)”. (QS.al-A’raf: 138).

Allah juga berfirman:

Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika Dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?”. Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”. (QS.an-Naml: 54-55).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Seorang manusia terkadang diberikan keimanan akan tetapi ilmunya sedikit. Keimanan semisal ini bisa terangkat dari dadanya, seperti imannya Bani Isroil tatkala melihat anak sapi[3]. Adapun orang yang diberikan ilmu dengan keimanan, maka hal ini tidak akan hilang dari dada, orang semacam ini tidak akan murtad sama sekali. Berbeda dengan orang yang hanya beriman saja maka keimanannya bisa hilang dan ini sudah terbukti. Kemurtadan yang sering kita jumpai adalah orang yang tahu al-Qur’an tapi hampa dari ilmu dan iman, atau dia punya iman tapi tidak punya ilmu dan al-Qur’an. Adapun orang yang diberikan pengetahun al-Qur’an dan iman kemudian berilmu maka tidak akan hilang dari dadanya, Allou A’lam”.[4]

2.Meremehkan dosa dan maksiat

Dosa dan maksiat adalah sebab turunnya keimanan seseorang, maka janganlah dianggap enteng. Dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasululloh bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ

Waspadalah kalian dari meremehkan dosa. (HR.Ahmad 5/331, Baihaqi dalam Syu’abul Iman no.7267. Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari 11/329: “Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang hasan”).

Al-Hafizh Ibnu Rojab berkata: “Dan yang hampir sama semisal ini adalah seorang manusia mengerjakan dosa dan ia menganggap enteng, meremehkannya, maka jadilah hal itu sebagai sebab kebinasaan dirinya, sebagaimana Alloh berfirman;

Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar. (QS.an-Nuur: 15).

Sebagain sahabat mengatakan[5]: “Sungguh kalian melakukan sebuah amalan yang kalian sangka lebih ringan dari sehelai rambut, padahal kami pada zaman Rasulullah menganggap hal itu sebagai amalan yang membinasakan”.[6]

3.Pengaruh teman dan lingkungan

Lingkungan dan teman yang jelek merupakan salah satu sebab pelemah keimanan. Kita semua menyadari, bahwa manusia tidak bisa hidup melainkan harus berteman dan bersosialisasi. Namun, hendaknya selektif dalam memilih teman bergaul. Pilihlah teman yang bisa membantu dalam kebaikan dan ketaatan kepada Alloh, teman-teman yang selalu menjaga kesucian dirinya, karena teman punya pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk kepribadian seseorang. Perhatikan firman Alloh berikut ini;

Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Robbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS.al-Kahfi: 28).

Sebaliknya, teman yang jelek akan mendorong untuk berbuat jelek pula, tidak menguntungkan bahkan membawa kerugian dan penyesalan. Alloh berfirman;

Dan (Ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) Aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku dulu tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Qur’an ketika al-Qur’an itu telah datang kepadaku, dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. (QS.al-Furqon: 27-29).

4.Terbuai dengan kehidupan dunia

Termasuk perkara yang bisa melemahkan keimanan adalah sibuk mengurusi perkara dunia yang fana. Hingga dia terlena, lalai dan lupa kampung akherat. Padahal Allah tidak menyebutkan tentang dunia kecuali kejelekan. Allah berfirman:

Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS.al-Hadiid: 20).

Imam Ibnul Qoyyim mengatakan: “Sesuai kadar keingan seorang hamba terhadap dunia dan keridhaannya maka demikian juga sebanding dengan rasa beratnya untuk melakukan ketaatan kepada Allah dan mencari kampung akherat”.[7]

Inilah sebagian sebab-sebab yang membuat iman melemah dan menipis. Allahu A’lam.

Obat Ketika Iman Melemah

Tidak ada suatu penyakit dan permasalahan kecuali ada jalan keluar dan obatnya. Bila iman sedang melemah apa yang harus kita lakukan? Diantaranya;

1.Menuntut ilmu agama

Karena ilmu syar’I akan membendung seorang manusia untuk kembali dalam kesesatan. Raihlah ilmu yang bermanfat yang menerangi jalanmu, yang mencegah dari kesalahan, dan menipisnya iman, kemudian amalkanlah. Alloh berfirman:

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), Kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. (QS.al-A’rof: 175-176).

Imam Ibnu Rajab mengatakan: “Sungguh Alloh telah mengabarkan tentang suatu kaum yang mereka diberikan ilmu akan tetapi ilmunya tidak memberikan manfaat baginya. Maka ini adalah ilmu yang bermanfaat pada sendirinya, akan tetapi pemiliknya tidak bisa memanfaatkannya”.[8]

2.Takutlah dari dosa

Karena dosa akan mematikan pelakunya. Janganlah anda merasa aman dari siksa Allah, siapa yang bisa menebak, barangkali ketika anda melakukan kemasiatan kematian itu akan datang secara tiba-tiba? Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah akhir kehidupan yang jelek. Maka wajib bagimu wahai orang yang beriman untuk selalu was-was dan takut untuk kembali ke jalan kemaksiatan. Mintalah selalu agar kita tetap istiqomah dan mati dalam keadaan muslim. Alloh mengisahkan tentang Nabi Yusuf;

Ya Robbku, Sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (ya Robb) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam Keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. (QS.Yusuf: 101).

Rasulullah bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

Ada tiga perkara yang jika terdapat pada diri seseorang maka dia akan mendapati manisnya iman; jika dia lebih mencintai Allah dan Rasulnya daripada selain keduanya. Mencintai seseorang  tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah. Jika dia benci kembali pada kekafiran setelah Allah menyelamatkan darinya sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.[9]

3.Pilih teman dan lingkungan yang baik

Teman yang baik adalah teman yang bisa mengajak kebaikan, meningkatkan keimanan dan mendorong dalam ketaatan. Maka berteman dengan teman yang rajin akan mendorong diri kita untuk meniru dan ikut sepertinya. Rasulullah mengatakan:

Permisalan teman duduk yang baik dan teman yang jelek bagaikan penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi, engkau akan membelinya atau engkau mendapat bau wanginya. Adapun tukang pandai besi, dapat membakar rumahmu, bajumu atau engkau mendapat baunya yang tidak enak.[10]

4.Beramal Shalih

Karena hal itu akan membawa kebaikan bagi pelakunya. Amalan shalih adalah sebab terbesar melejitkan kembali iman yang sedang melemah. Dan ketahuilah, bahwa amalan yang paling dicintai disisi Alloh adalah yang kontinyu sekalipun sedikit. Rasululloh bersabda;

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai Alloh adalah yang dikerjakan terus menerus sekalipun sedikit.[11]

Dan tidak ragu lagi, bahwa orang yang senantiasa menghiasi hari-harinya dengan amal solih, hatinya akan berpaling dari sifat malas, dirinya akan senantiasa semangat, imannya akan selalu meningkat, bi idznillah.

5.Sibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat

Bila iman sedang melemah, rasa malas menghampiri, maka bersegeralah untuk menepisnya dengan mengerjakan kegiatan yang bermanfaat. Semisal membaca buku-buku islami yang kita senangi, olah raga dan lain-lain dari kegiatan yang bermanfaat. Tujuan dari ini adalah agar keimanan yang melemah, rasa malas yang sedang kita alami tetap terkendali dengan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat tidak menyalahi aturan agama. Rasululloh bersabda;

لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلىَ سُنَّتِيْ فَقَدْ اهْتَدَى وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلىَ غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

Setiap amal perbuatan memiliki semangat, dan setiap semangat memiliki masa future (kurang semangat). Barangsiapa yang masa futurnya menuju sunnahku, maka dia telah berjalan di atas petunjuk. Dan barangsiapa yang masa futurnya menuju kepada selain sunnahku, maka dia telah binasa.[12]

6.Ambil bagian dunia jangan lupa akherat

Dunia dengan segala kenikmatan di dalamnya hanyalah bersifat sementara. Semuanya akan hilang dan punah. Yang kekal hanya kehidupan akherat dan apa yang ada disisi Alloh. Alloh berfirman:

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, Maka itu adalah ke- nikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka Apakah kamu tidak memahaminya? Maka Apakah orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu ia memperolehnya, sama dengan orang yang Kami berikan kepadanya kenikmatan hidup duniawi kemudian Dia pada hari kiamat Termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)? (QS.al-Qoshos: 60-61).

Imam Ibnu Katsir mengatakan: “Alloh memberi kabar tentang hinanya dunia dan apa yang ada di dalamnya berupa perhiasan yang hina dan bunga kehidupan yang fana dibandingkan dengan apa yang Alloh telah persiapkan bagi para hambanya yang sholih di negeri akherat berupa kenikmatan yang besar dan kekal, sebagaimana Alloh berfirman;

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. (QS.an-Nahl: 96).[13]

Namun, hal ini bukan berarti kita dilarang mengambil dunia, ambillah bagian dunia kita untuk penunjang ketaatan kepada Allah dan meningkatkan keimanan. Allah berfirman:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (QS.al-Qashas: 77).

Sebagian salaf mengatakan: “Engkau butuh terhadap dunia, akan tetapi mengambil bagianmu untuk akherat adalah lebih dibutuhkan. Apabila engkau mengawali bagianmu untuk akherat, maka akan berjalan pula bagianmu dari dunia dan akan tersusun dengan susunan yang bagus”. (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam al-Zuhd hal.228).

7.Berdo’a

Do’a adalah senjatanya seorang muslim yang paling ampuh dalam menangkal virus malas dan godaan setan yang bisa menyurutkan keimanan. Mintalah selalu kepada Alloh dengan perendahan diri agar tetap semangat. Rasulullah bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ

Ya alloh aku berlindung kepadamu dari rasa lemah dan malas. Dari rasa takut, tua dan bakhil. Dan aku berlindung kepadamu dari siksa kubur dan fitnah hidup dan kematian.[14]

Demikianlah tulisan sederhana ini, semoga dapat menggugah semangat keimanan kita dan bermanfaat bagi saudara kami dimanapun berada. Allahu A’lam.

[1] Al-Fawaid hal.191

[2] Ighatsatul Lahfan 2/133

[3] Lihat QS.an-Nisaa: 153

[4] Majmu’ Fatawa 18/305

[5] HR.Bukhari: 6492, yang berkata adalah sahabat Anas bin Malik

[6] Al-Mahajjah Fi Sairi ad-Duljah hal.90

[7] Al-Fawaid hal.180

[8] Fadhlu Ilmi Salaf ‘Ala Ilmi Kholaf hal.7, Ibnu Rojab

[9] HR.Bukhari: 16, Muslim: 43

[10] HR.Bukhari: 2101, Muslim: 2628

[11] HR.Bukhari: 6464, Muslim: 1866

[12] Lihat Shohih at-Targhib Wat Tarhib no.56

[13] Tafsir Ibnu Katsir 6/249

[14] HR.Bukhari: 2668, Muslim: 2706

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pemasangan Parabola dan pemesanan buku via whatsapp atau sms ke no 0812 8956 6500semua keuntungan untuk operasional media dakwah Ahsan TV Dismiss

%d blogger menyukai ini: