Bersama Al-Quran di Bulan Ramadhan

Salah satu syiar di bulan Ramadhan yang telah banyak dilalaikan manusia adalah mempelajari al-Qur’an. Padahal bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an, maka sudah semestinya bagi setiap muslim punya perhatian lebih terhadap al-Qur’an di bulan ini. Bagaimana kebersamaan al-Qur’an di bulan Ramadhan? Ikuti ulasan ringkas berikut ini.

Ramadhan Bulan al-Qur’an

Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an yang berisi petunjuk bagi umat manusia. Allah berfirman:

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (QS.Al-Baqoroh: 185).

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di mengatakan: “Puasa yang wajib bagi kalian adalah puasa di bulan Ramadhan, sebuah bulan yang sangat agung yang kalian telah mendapatkan keutamaan yang besar di bulan ini yaitu turunnya al-Qur’an. al-Qur’an merupakan petunjuk kebaikan bagi kalian di dunia dan akherat. Al-Qur’an yang telah menjelaskan kebenaran dengan penjelasan yang gamblang, sebagai pembeda antara yang hak dan batil, antara hidayah dan kesesatan, dan antara orang yang bahagia dan orang yang celaka”.[1]

Hikmah Turunnya al-Qur’an Di Bulan Ramadhan

Hubungan al-Qur’an dengan bulan Ramadhan adalah hubungan yang penuh makna dan hikmah. Mengapa demikian? Coba renungkan sejenak, ibadah puasa adalah sarana perbaikan jiwa bagi seorang hamba, sarana agar manusia menjadi manusia yang baik jiwanya dan bersih akal dan hatinya, semua ini menyimpan tujuan besar, yaitu agar manusia siap menerima pancaran cahaya ilmu dan bimbingan petunjuk yang ada di dalam al-Qur’an. Maksud yang terbesar dari puasa adalah membersihkan hati dan pikiran, dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih maka manusia akan mampu memahami kandungan al-Qur’an. Perhatikanlah rahasia hikmah ini dalam urutan ayat tentang puasa, setelah Alloh menyebutkan kewajiban puasa maka Alloh menyebutkan dalam rentetan selanjutnya dengan ayat turunnya al-Qur’an, hal ini dapat dipahami bahwa disyariatkannya ibadah puasa  tiada lain demi al-Qur’an.[2]

Agar lebih yakin lagi tentang rahasia hikmah ini, mari sejenak kita renungi hadits yang dikeluarkan oleh imam al-Bukhari dari jalan sahabat Ibnu Abbas beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ

Adalah Rasululloh orang yang paling dermawan, kedermawanan beliau akan sangat nampak di bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkannya al-Qur’an. Sungguh Rasululloh adalah orang yang paling dermawan terhadap kebaikan, sangat dermawan melebihi angin yang berhembus.[3]

Di dalam hadits ini ada pelajaran keimanan dan pendidikan yang banyak tidak diketahui oleh orang, yaitu pengaruh membaca al-Qur’an dan mentadabburinya pada bulan Ramadhan terhadap akhlak orang yang membacanya, dan hal itu akan terlihat dengan keluasannya dalam berinfaq dan dermawan dalam pelbagai kebaikan.[4]

Tugas Mulia Membaca al-Qur’an

Al-Qur’an adalah kalamulloh. Membaca al-Qur’an merupakan amalan mulia dan berpahala. Alloh telah memerintahkan kita agar selalu membacanya. Orang yang membaca al-Qur’an akan mendapat pujian dan keistimewaan dari Alloh. Alloh berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS.Fathir: 29-30).

Rasululloh bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi ahli Qur’an.[5]

Dan Rasulullah telah menjanjikan pahala yang besar bagi yang membaca al-Qur’an, beliau bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ الْم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Barangsiapa yang membaca satu huruf al-Qur’an maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan bahwa Aliif Laam Miim satu huruf, akan tetapi Aliif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.[6]

Beliau juga bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: «هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

Sesungguhnya Alloh mempunyai orang-orang yang ahli diantara manusia. Ada yang bertanya; siapa mereka wahai Rasululloh? Nabi menjawab: mereka adalah ahli al-Qur’an, mereka adalah wali Alloh dan orang khususnya.[7]

 

Imam Ibnu Shalah mengatakan: “Membaca al-Qur’an adalah kemuliaan, kemuliaan yang Alloh berikan kepada manusia. Sungguh para malaikat tidak diberikan hal itu, dan mereka sangat semangat untuk mendengarkannya dari manusia”.[8]

Hakekat Membaca al-Qur’an

Inti dan hakekat dari membaca al-Qur’an adalah ittiba’. Yaitu mengikuti dengan segenap hati apa yang telah dibaca dari kandungan al-Qur’an. Menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Alloh berfirman:

tûïÏ%©!$# ãNßg»oY÷s?#uä |=»tGÅ3ø9$# ¼çmtRqè=÷Gtƒ ¨,ym ÿ¾ÏmÏ?urŸxÏ? y7Í´¯»s9’ré& tbqãZÏB÷sム¾ÏmÎ/ 3

Orang-orang yang telah Kami berikan Al kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. (QS.al-Baqarah: 121).

Imam Mujahid berkata: “FirmanNya  mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya yaitu mereka mengamalkannya dengan sebenar-benarnya pengamalan”.[9]

Imam Ikrimah mengatakan: “Yaitu mereka mengikutinya dengan sebenar-benarnya pengikutan”.[10]

Imam Ibnul Qoyyim mengatakan: “Mutaba’ah ini adalah hakekat membaca yang Alloh telah memberi pujian bagi ahlinya dalam firmannya yang berbunyi:

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab. (QS.Fathir: 29).

Maksud dari membaca yang hakiki adalah membaca secara makna dan mengikutinya, dengan membenarkan beritanya, melaksanakan perintahnya, meninggalkan larangannya, dan menjadikan al-Qur’an sebagai imam”.[11]

Mana Yang Lebih Afdhal, Membaca Dengan Melihat Mushaf Atau Dengan Hafalan?

Membaca al-Qur’an dengan melihat mushaf adalah ibadah dan membacanya lewat hafalan juga termasuk ibadah. Namun, manakah yang lebih utama dari keduanya?

Dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasululloh bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُحِبَّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَلْيَقْرَأْ فِيْ الْمُصْحَفِ

Barangsiapa yang senang untuk mencintai Alloh dan RasulNya maka hendaklah ia membaca al-Qur’an dari mushaf.[12]

Abdullah bin Mas’ud mengatakan: “Rutinkan untuk melihat al-Qur’an dari Mushaf”.[13]

Imam an-Nawawi berkata: “Membaca al-Qur’an dengan melihat mushaf lebih afdhal daripada membaca lewat hafalan, karena melihat mushaf adalah ibadah yang sudah ditetapkan, maka akan berkumpul antara membaca al-Aqu’an dan melihatnya”.[14]

Potret Salaf Bersama al-Qur’an Di Bulan Ramadhan

Imam az-Zuhri pernah ditanya tentang amalan di bulan Ramadhan, beliau menjawab; amalan di bulan Ramadhan hanya membaca al-Qur’an dan memberi makan.

Imam Abdurrazzaq menukil dari Imam ats-Tsauri bahwasanya jika telah masuk bulan Ramadhan beliau meninggalkan seluruh ibadah selain yang wajib, dan memfokuskan diri untuk membaca al-Qur’an. Dan diceritakan bahwa Imam Malik bila telah datang bulan Ramdhan maka beliau lari dari majlis ilmu dan memfokuskan diri untuk membaca al-Qur’an dari mushaf.[15]

Memahami Kandungan Makna al-Qur’an

Sungguh telah banyak ayat-ayat dalam al-Qur’an yang berisi perintah agar memahami kandungan makna al-Qur’an dengan mentadabburinya. Al-Qur’an diturunkan oleh Alloh bukan semata untuk dibaca, namun tujuan asasi adalah agar dipahami kandungan makna ayat al-Qur’an. Alloh berfirman:

ë=»tGÏ. çm»oYø9t“Rr& y7ø‹s9Î) Ô8t»t6ãB (#ÿr㍭/£‰u‹Ïj9 ¾ÏmÏG»tƒ#uä t©.x‹tFuŠÏ9ur (#qä9’ré& É=»t6ø9F{$# ÇËÒÈ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS.Shaad: 29).

Imam as-Syaukani berkata: “Ayat ini adalah dalil bahwasanya Alloh menurunkan al-Qur’an itu hanyalah untuk ditadabburi dan direnungi maknanya, bukan hanya sekedar membacanya tanpa tadabbur”.[16]

Alloh berfirman:

Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS.an-Nisaa: 82).[17]

Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Tidak ada sesuatu apapun yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba di kehidupan dunia dan akheratnya dan lebih bisa mendekatkan diri menuju keselamatannya dibandingkan dengan mentadabburi al-Qur’an, mendalaminya dengan merenungi makna ayat-ayatnya. Karena dengan cara tersebut akan nampak baginya tanda-tanda kebaikan dan peringatan akan kejelekan”.[18]

Termasuk praktek nyata Rasululloh dan para sahabat dalam mentadabburi al-Qur’an adalah kebiasaan mereka yang mengulang-ulang satu ayat al-Qur’an sampai waktu subuh. Abu Dzar berkata: Nabi shalat malam dengan membaca satu ayat sampai waktu subuh, beliau mengulang-ulang ayat itu terus, ayat tersebut berbuyi;

Jika Engkau menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.al-Maidah: 118).

Dari Abdil Wahhab bin Ibad bin Hamzah dari bapaknya dari kakeknya dia berkata: “Asma menyuruhku untuk pergi ke pasar sedangkan beliau baru memulai membaca surat at-Thuur, ketika sampai ayat yang berbunyi;

Dan memelihara Kami dari azab neraka. (QS.at-Thuur: 27).

Akupun pergi berangkat ke pasar. Ketika aku pulang dari pasar beliau masih membaca ayat yang sama dan terus mengulanginya!!.[19]

Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Inilah kebiasaan salaf, salah seorang diantara mereka mengulang-ulang ayat sampai subuh”.[20]

Imam Ahmad bin Abdirrahman al-Maqdisi berkata: “Selayaknya bagi orang yang membaca al-Qur’an untuk melihat bagaimana kelembutan Alloh terhadap makhluknya dalam menyampaikan makna al-Qur’an ke dalam pemahaman mereka, dan hendaknya menyadari bahwa apa yang dia baca bukan ucapan manusia, agar dapat menghadirkan dalam hatinya keagungan yang berkata dan mentadabburi firmanNya, karena tadabbur adalah maksud inti dari membaca, jika tidak mampu dalam mentadabburinya kecuali dengan mengulang-ulang ayat, maka ulang-ulangilah”.[21]

Khataman al-Qur’an

Mempunyai target dalam membaca al-Qur’an adalah sunnah yang telah ditinggalkan. Sungguh para salaf mereka punya target yang tetap dalam membaca al-Qur’an pada setiap harinya, disebut dengan Hizb, Wirid atau Juz yang mereka tetapkan terus bersambung hingga hatam al-Qur’an dalam sebulan sekali, dalam sepekan sekali atau setiap tiga hari sekali. Dalil permasalahan ini diantaranya adalah sabda Rasululloh yang berbunyi;

مَنْ نَامَ عَنْ حِزْبِهِ، أَوْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ، فَقَرَأَهُ فِيمَا بَيْنَ صَلَاةِ الْفَجْرِ، وَصَلَاةِ الظُّهْرِ، كُتِبَ لَهُ كَأَنَّمَا قَرَأَهُ مِنَ اللَّيْلِ

Barangsiapa yang tertidur meninggalkan hizbnya atau sedikit darinya, kemudian dia membacanya antara shalat subuh dan shalat zuhur maka akan ditulis baginya pahala bacaan semalam suntuk”.[22]

Dan paraktek para sahabat yang mencontoh Nabi dalam pencapaian target membaca al-Qur’an adalah suatu yang sudah maklum diketahui. Sebagai contohnya suatu hari Rasululloh menjamu tamu dari kalangan Bani Tsaqif di tendanya, mereka datang menemui Rasululloh setiap malam setelah Isya agar mendengar ilmu dari Rasululloh. Pernah di suatu malam Rasululloh terlambat keluar menemui mereka, salah seorang dari mereka bertanya; sungguh malam ini engkau terlambat dalam memberi hadits kepada kami. Nabi menjawab; sesungguhnya tadi terlihat dalam fikiranku target bacaan al-Quranku, maka aku tidak senang untuk keluar sebelum aku menyelesaikannya. Rawi hadits ini yaitu Aus bin Hudzaifah berkata: aku bertanya kepada para sahabat Rasululloh, bagaimana kalian membagi target bacaan dan hafalan al-Qur’an? Mereka menjawab; tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas dan target surat-surat mufasshal”.[23]

Ibunda Aisyah beliau juga mempunyai kegiatan rutin dalam membaca al-Qur’an agar bisa khatam dalam tujuh hari. Beliau berkata: “Sungguh aku membaca juz al-Qur’an yang menjadi targetku sedangkan saya duduk di atas kasur tempat tidurku”.[24]

Pensyarah kitab Sunan Abu Dawud berkata: “Hizb adalah apa yang dijadikan seseorang utuk dirinya sendiri berupa target dalam membaca al-Qur’an. Maksud ucapan para sahabat hizbnya tiga yaitu surat al-Baqarah, Ali Imran dan an-Nisaa. Maksud lima adalah dari surat al-Maidah sampai surat at-Taubah, maksud tujuh adalah dari surat Yunus sampai surat an-Nahl. Dan sembilan yaitu dari surat as-Shoffaat sampai surat Hujuraat. Dan maksud surat mufasshol yaitu dari surat Qaaf sampai akhir al-Qur’an”.[25]

Lamanya Waktu Menghatamkan al-Qur’an

Berkata Imam Nawawi: “Kaum salaf memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam batas waktu menghatamkan Al-Qur’an, sebagian mereka ada yang menghatamkannya dalam dua bulan, sebagian yang lain dalam sebulan, yang lainnya dalam sepuluh hari, yang lainnya lagi dalam tujuh hari dan inilah yang terbanyak, bahkan ada juga yang menghatamkannya dalam satu hari satu malam.[26]

Dalam masalah ini ada beberapa hadist yang menjelaskannya,

عَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ الله: اِقْرَأْ اْلقُرْآنَ فِيْ شَهْرٍ قُلْتُ : إِنِّيْ أَجِدُ قُوَّةً حَتَّى قَالَ: فَاقْرَأْهُ فِيْ سَبْعٍ وَلا تُزِدْ عَلىَ ذَالِكَ

Dari Abdullah Bin Amr, bahwasanya Rasulullah berkata kepadaku: Bacalah Al-Qur’an dalam sebulan! Aku berkata: Aku masih sanggup kurang dari itu wahai Rasulullah! Rasulullahpun berkata: kalau begitu bacalah dalam waktu tujuh hari dan janganlah engkau minta kurang lagi!. [27]

Rasulullah juga bersabda:

عَنْ عَبْدِ الله ِعَمْرٍو أَنَّ رَسُوْلَ الله قَالَ: لَمْ يَفْقَهْ مَنْ قَرَأَ اْلقُرْآنَ فِيْ أَقَلَّ مِنْ ثَلاثٍ

Dari Abdullah Bin Amr, bahwasanya Rasulullah bersabda: Tidak akan faqih orang yang membaca Al-Qur’an kurang dari tiga hari.[28]

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Larangan menghatamkan al-Qur’an kurang dari tiga hari hanyalah jika hal itu dilakukan secara terus menerus. Adapun jika dilakukan pada waktu-waktu yang penuh dengan keutamaan seperti pada bulan Ramadhan, wabil khusus pada malam-malam yang diharapkan turun Lailatul Qadr atau dilakukan pada tempat yang punya keutamaan seperti kota Mekkah yang dikunjungi oleh orang luar Mekkah maka dianjurkan untuk memperbanyak membaca al-Qur’an sebagai bentuk meraih kesempatan keutamaan waktu dan tempat, inilah pendapatnya Ahmad, Ishaq dan selain keduanya dari para imam”.[29]

Perhatian: Tidak ada do’a khusus ketika menghatamkan Al-Qur’an, adapun do’a-do’a khatam Al-Qur’an yang tersebar sekarang ini tidaklah shohih![30]

Mutiara Kalam Salaf

1.Fudhail bin Iyadh mengatakan:”Selayaknya bagi yang membawa al-Qur’an agar tidak butuh kepada seorang pun, tidak kepada khalifah atau orang yang dibawahnya. Bahkan hendaknya kebutuhan manusia itu yang diarahkan kepada al-Qur’an. Orang yang menekuni al-Qur’an adalah orang yang membawa bendera Islam, tidak pantas baginya untuk lalai bersama orang yang lalai, lupa bersama orang yang lupa dan tersebukkan bersama orang yang sibuk”.[31]

2.Imam al-Aajurri berkata: “Hendaknya orang yang membaca al-Qur’an untuk menjadikan al-Qur’an sebagai penyejuk hatinya, memenuhi relung hati dalam memperbaiki yang rusak, beradab dengan adab al-Qur’an, berakhlak dengan akhlak yang mulia, dirinya berbeda dengan seluruh manusia yang tidak membaca al-Qur’an”.[32]

3.Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Andaikan manusia mengetahui apa yang terdapat dalam membaca al-Qur’an dengan tadabbur niscaya mereka akan menyibukkan diri dengannya dari perkara yang lain. Apabila membaca al-Qur’an dengan merenunginya hingga ketika melewati satu ayat dia berfikir dan mentadabburinya, hal itu lebih baik daripada membaca al-Qur’an sampai tamat tanpa diiringi tadabbur dan pemahaman”.[33]

Allohu A’lam.

[1] Taisir Karim ar-Rahman 1/178-179

[2] Ruh as-Shiyam Wa Ma’aniih hal.52, DR.Abdul Aziz Musthafa Kamil

[3] HR.Bukhari: 6, Muslim: 2308

[4] Al-Fawaid at-Tarbawiyyah Fis Shaum hal.81, Ibrahim bin Abdulloh as-Samary

[5] HR.Muslim: 802

[6] HR.Tirmidzi: 2910. Shahih. Lihat Al-Misykah: 2137 oleh al-Albani

[7] HR.Ibnu Majah: 215, Hakim 1/556. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no.1432

[8] Al-Itqan Fi U’lum al-Qur’an 1/291, as-Suyuthi

[9] Dikeluarkan oleh Imam at-Thabari dalam tafsirnya 1/568, al-Aajurri dalam Akhlak Hamalah al-Qur’an hal.5, 35

[10] Dikeluarkan oleh Imam at-Thabari 1/567, al-Firyabi dalam Fadhail al-Qur’an no.165

[11] Miftah Dar as-Sa’adah 1/202

[12] HR.Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 7/209, Ibnu Ahmad ar-Rozi dalam Fadhail al-Qur’an Wa Tilawatuh no.115. dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no.6289, as-Shahihah no.2342

[13] Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya 2/499, al-Firyabi dalam Fadhail al-Qur’an hal. 149-150

[14] At-Tibyan Fi Aadab Hamalah al-Qur’an hal.55

[15] Wazhaif Ramadhan hal.42

[16] Fathul Qadiir 4/430

[17] HR.Ibnu Majah no.1350, an-Nasai no.1010. Dishahihkan oleh syaikh al-Albani dalam al-Misykah no.1205

[18] Madarij as-Salikiin 1/450

[19] Qiyam al-Lail Wa Qiyam Ramadhan no.64, Imam al-Mawarzi. Dalam kitab ini beliau banyak membawakan riwayat para salaf yang mengulang-ulang satu ayat lebih dari sekali dalam rangka mentadabburi al-Qur’an.

[20] Miftah Dar as-Sa’adah 1/553

[21] Mukhtshar Minhaj al-Qashidin hal.68, Tahqiq: Ali Hasan

[22] HR.Muslim: 747

[23] HR.Ibnu Majah: 1345. Dihasankan oleh al-Hafizh al-Iroqi dalam Takhrij al-Ihyaa 1/276

[24] Dikeluarkan oleh Abu Ubaidah dalam Fadhail al-Qur’an no.291

[25] Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud 2/87

[26] Al-Adzkar hal. 153.

[27] HR. Bukhori: 5054, Muslim: 184.

[28]  HR. Tirmidzi (2946), Abu Dawud (1390), Ibnu Majah (1347), Darimi (1501), Ahmad (2/164). Dishohihkan oleh Al-Albany dalam As-Shohihah (1513), dan Al-Misykah (2201).

[29] Lathaif al-Ma’arif hal.319

[30] Untuk lebih meluaskan permasalahan ini silahkan periksa kitab Marwiyyat Du’a Khotmil Qur’an karya Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid.

[31] Dikeluarkan oleh Imam al-Aajurri dalam Akhlak Hamalah al-Qur’an no.37, Abu Nu’aim dalam al-HIlyah 8/92 dengan sanad yang tidak mengapa.

[32] Akhlak Hamalah al-Qur’an hal.154-161

[33] Miftah Daar as-Sa’adah 1/553

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pemasangan Parabola dan pemesanan buku via whatsapp atau sms ke no 0812 8956 6500semua keuntungan untuk operasional media dakwah Ahsan TV Dismiss

%d blogger menyukai ini: