Bersama Nabi di Bulan Suci

Sungguh Allah telah memerintahkan kita untuk mengikuti Rasulullah dan mewajibkan bagi semua ummat untuk mentaatinya. Allah berfirman:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. (QS.al-Hasyr: 7).

Dan tidak kita ragukan lagi bahwa petunjuk yang beliau bawa adalah sebaik-baiknya petunjuk bagi ummatnya. Nah, diantara petunjuk dan bimbingan Nabi kita adalah perkara yang berkaitan dengan puasa Ramadhan. Bagaimana petunjuk beliau pada bulan mulia ini? Marilah sejenak kita pusatkan perhatian terhadap  potret keadaan Nabi selama bulan Ramadhan.[1] Allahul Muwaffiq.

  1. Menyambut Bulan Ramadhan

Nabi adalah orang yang paling sempurna zuhudnya. Sangat semangat untuk meraih keutamaan dari Allah dan negeri akhirat. Oleh karena itu, beliau sangat senang dan gembira dengan datangnya bulan-bulan yang penuh dengan pahala dan ketaatan, diantaraya adalah bulan Ramadhan. Apa dan bagaimana keadaan Nabi dalam menyambut bulan yang mulia ini?

1.Memperbanyak puasa di bulan Sya’ban

Sebagai persiapan bagi jiwa agar tidak kaget dengan puasa di bulan Ramadhan. Aisyah menuturkan;

مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ, وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِيْ شَعْبَانَ

Saya tidak perlah mengetahui Nabi puasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah mengetahui dia lebih banyak berpuasa daripada di bulan sya’ban.[2]

Para ulama mengatakan: “Puasa sya’ban ibaratnya seperti sunnah-sunnah rawatib bagi shalat fardhu. Dia adalah pembukaan untuk puasa Ramadhan, yaitu bagaikan puasa rawatib bagi puasa Ramadhan, oleh karena itu disunnahkan puasa pada bulan Sya’ban dan disunnahkan juga untuk puasa enam hari di bulan Syawwal. Ibaratnya, keduanya itu bagaikan rawatib sebelum shalat wajib dan setelahnya”.[3]

Inilah keadaan Nabi kita, beliau memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, bukan di bulan Rajab sebagaimana yang banyak dikerjakan oleh sebagian kaum muslimin!! mereka meninggalkan petunjuk yang shahih dengan banyak berpuasa di bulan Sya’ban dan malah beralih untuk puasa di bulan Rajab yang dasarnya adalah hadits-hadits lemah dan palsu!!.[4]

2.Memberi kabar gembira kepada para shahabatnya

Adalah Rasulullah memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan tibanya bulan Ramadhan. Dari Abu Hurairoh bahwasanya Nabi bersabda;

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Alloh mewajibkan puasa atas kalian di dalamnya. Pada bulan ini dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu setan-setan. Di dalam bulan ini ada sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tercegah dari kebaikannya, maka sungguh dia tercegah untuk mendapatkannya.[5]

Al-Hafizh Ibnu Rojab berkata: “Sebagian ulama mengatakan; hadits ini adalah dalil bolehnya mengucapkan selamat antara sebagian manusia kepada yang lain berhubungan dengan datangnya bulan Ramadhan.[6] Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak bergembira dengan dibukanya pintu surga?!, bagaimana tidak bergembira orang yang berbuat dosa dengan ditutupnya pintu neraka?! Bagaimana mungkin orang yang berakal tidak bergembira dengan suatu waktu yang saat itu setan dibelenggu, waktu mana yang bisa menyerupai waktu semacam ini?”.[7]

3.Tidak puasa Ramadhan kecuali dengan melihat hilal atau menyempurnakan bulan sya’ban

Ketahuilah wahai saudaraku, awal bulan Ramadhan ditentukan dengan dua cara[8];

Pertama; Terlihatnya hilal[9] bulan Ramadhan sekalipun yang melihatnya hanya satu orang yang adil.[10] Berdasarkan haditsnya Ibnu Umar, dia berkata;

تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلاَلَ فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنِّى رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ.

Orang-orang sedang mengamati hilal. Aku kabari Rasulullah bahwa aku melihatnya. Beliau kemudian berpuasa dan menyuruh orang-orang agar ikut berpuasa bersama beliau.[11]

Kedua: Jika hilal tidak terlihat, karena suatu sebab seperti mendung, maka bulan sya’ban digenapkan 30 hari. Berdasarkan hadits Abu Hurairoh, bahwasanya Rosulullah bersabda;

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ ، فَإِنْ غُبِّىَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ

Berpuasalah kalian karena melihat hilal, dan berbukalah (berhari raya) karena melihat hilal. Jika awal bulan samar bagi kalian, maka genapkanlah bulan sya’ban hingga tiga puluh hari.[12]

Imam at-Tirmidzi mengatakan: “Para ahli ilmu telah menegaskan untuk beramal dengan kandungan hadits ini. Mereka mengatakan; Persaksian satu orang bisa diterima untuk penentuan awal puasa. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mubarak, Syafi’I, Ahmad, dan orang-orang kuffah. Dan tidak ada perselisihan antara ahli ilmu bahwa jika untuk berbuka (berhari raya) tidak diterima kecuali persaksian dari dua orang”.[13]

Dari penjelasan diatas dapat kita pahami bahwa metode dalam penentuan awal puasa Ramadhan adalah dengan terlihatnya hilal.[14] Jika hilal tidak terlihat, maka dengan menyempurnakan bilangan bulan sya’ban menjadi 30 hari.

Inilah cara mudah dalam penentuan awal Romadhan yang selayaknya diamalkan oleh seluruh kaum muslimin. Inilah petunjuk Nabi dalam menetapkan awal bulan Ramadhan. Barangsiapa yang menyangka bahwa dia mengetahui masuknya awal bulan Ramadhan dengan cara selain yang telah ditetapkan oleh agama, sungguh dia telah bermaksiat kepada Alloh dan Rasulnya. Seperti orang yang mengatakan wajibnya menggunakan metode hisab[15] dalam penentuan awal Ramadhan, atau wajib berpegang dengan kalender. Perkara semacam ini tidak bisa diketahui oleh setiap orang, apalagi metode hisab mengandung kemungkinan salah.[16] Cara dan metode semacam ini memberatkan ummat padahal Alloh mengatakan;

($tBur [email protected]_ ö/ä3ø‹n=tæ ’Îû ÈûïÏd‰9$# ô`ÏB 8ltym 4

Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (QS.al-Hajj: 78).

Maka, yang wajib bagi seluruh kaum muslimin untuk mencukupkan diri dengan apa yang telah disyariatkan oleh Alloh dan Rasulnya.[17] Marilah kita tinggalkan segala fanatik golongan karena semua itu hanya akan menjauhkan kita dari menerima kebenaran. Marilah kita Munculkan dalam hati kita semua rasa ingin mencari kebenaran meskipun hal itu harus bertentangan dengan sesuatu yang selama ini kita yakini.

  1. Keadaan Nabi Bersama Rabbnya

Ketika bulan Ramadhan telah tiba, beliau menjalani hari-hari Ramadhan dengan penuh kekhusyuan dan semangat dalam mengisinya dengan berbagai ketaatan. Apa saja amalan yang beliau kerjakan pada bulan ini?

1.Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan hukumnya wajib bagi setiap muslim yang baligh, berakal dan tidak memiliki udzur. Tidak terkecuali Nabi kita yang mulia. Allah berfirman:

يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (QS. Al-Baqarah: 183).

Bahkan tatkala Rasulullah wafat, beliau sudah menjalani sembilan kali puasa Ramadhan.[18]

Hal ini sebagai bantahan kepada orang-orang sufi yang mengatakan bahwa seseorang yang telah mencapai derajat ma’rifat, tidak wajib lagi shalat, puasa dan lain-lain!!. Juga sebagai bahan pelajaran bagi orang yang sering berbuka puasa di siang hari Ramadhan tanpa alasan, padahal Rasulullah bersabda;

Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba datang kepadaku dua orang yang kemudian memegang bagian bawah ketiakku dan membawaku ke sebuah gunung yang terjal. Keduanya berkata, “Naiklah”. Aku menjawab: “Aku tidak mampu”, keduanya berkata, “Baiklah, akan kami bantu engkau”. Akhirnya aku naik juga, tatkala aku sampai pada pertengahan gunung, aku mendengar suara yang sangat mengerikan, aku bertanya: “Suara apa ini?” keduanya berkata: “Itu teriakan penduduk neraka”. Kemudian aku dibawa lagi, dan aku melihat sekelompok orang yang kaki-kaki mereka digantung, tulang rahang mereka dipecah, darah mengalir dari tulang rahang mereka.[19] Aku bertanya: “Siapakah mereka itu?” Keduanya menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya”.[20]

Imam adz-Dzahabi berkata: “Dosa besar yang ke sepuluh adalah berbuka puasa pada bulan Ramadhan tanpa ada udzur dan alasan”.[21]

Tidakkah kita mencontoh Nabi kita yang mulia yang selalu berpuasa Ramadhan dan tidak pernah meninggalkannya! Ataukah jiwa kita sudah dipenuhi hawa nafsu sehingga dengan mudah menerjang perintah Allah dan Rasulnya?! Renungkanlah wahai saudaraku!!.

2.Shalat malam

Shalat malam adalah ciri khas orang-orang shalih. Shalat yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi kita yang mulia kecuali karena udzur, terlebih lagi pada bulan Ramadhan. Mengerjakan shalat tarawih pada bulan Ramadhan pahalanya sangat besar. Rasulullah bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang mengerjakan shalat malam di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala Alloh, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.[22]

Salah satu potret semangat beliau dalam shalat tarawih pada bulan Ramadhan sebagaimana penuturan Aisyah ketika beliau ditanya; bagaimana shalatnya Rasulullah di bulan Ramadhan? Aisyah menjawab: “Beliau mengerjakan shalat malamnya tidak melebihi sebelas rakaat baik di bulan Ramadhan atau selainnya. Beliau shalat empat rakaat, maka jangan engkau tanyakan bagusnya dan lamanya berdiri. Kemudian beliau shalat empat rakaat lagi, maka jangan engkau tanyakan bagusnya dan lamanya berdiri, kemudian beliau shalat tiga rakaat. Kemudian Aisyah bertanya; wahai Rasulullah, apakah engkau tidur sebelum shalat witir? Beliau menjawab: wahai Aisyah, kedua mataku tidur akan tetapi hatiku tidak tidur”.[23]

3.I’tikaf

Rasulullah biasa mengerjakan I’tikaf pada bulan yang mulia ini. Untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memalingkan hati dari kesibukan dunia.

Imam Ibnul Qoyyim berkata: “Alloh mensyariatkan iktikaf maksud dan intinya adalah agar hati lebih tenang dan menghadap kepada Alloh. Memusatkan hati, mendekatkan diri kepadaNya dan menghilangkan kesibukan yang berhubungan dengan manusia, hanya sibuk kepada Alloh saja”.[24]

Semangat beliau dalam mengerjakan I’tikaf tercermin dalam hadits Aisyah ketika berkata; “Adalah Rasulullah mengerjakan I’tikaf pada setiap Ramadhan”.[25]

Bahkan termasuk potret beliau yang paling menonjol di sepuluh terakhir bulan Ramadhan adalah kesungguhan beliau dalam menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan. Aisyah berkata: “Rasulullah bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir tidak seperti pada selainnya”.[26]

Aisyah juga menuturkan: “Adalah Rasulullah bila memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dan menguatkan ikatan sarungnya”.[27]

4.Mencari Lailatul Qadr

Malam lailatul qadr adalah malam yang dinanti kehadirannya oleh setiap hamba di bulan muia ini. Allah menyembunyikan waktu kehadiran malam ini sebagai ujian bagi setiap hamba agar diketahui mana yang bersungguh-sungguh dengan yang malas-malasan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Saya menguatkan bahwa Lailatul Qodr itu pada sepuluh hari terakhir dan berganti-ganti. Para ulama mengatakan; Hikmah tersembunyinya kepastian waktu Lailatul Qodr itu agar manusia bersungguh-sungguh untuk mencarinya. Seandainya kepastian malamnya diberitahu, maka manusia hanya akan bersungguh-sungguh di malam itu saja (sedangkan malam lainnya tidak)”.[28]

Perhatian Rasulullah terhadap malam mulia ini diwujudkan dengan anjuran beliau agar mengidupkan malam lailatul qadr dan mengisinya dengan shalat dan lain-lain. Beliau bersabda;

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Carilah Lailatul Qodr pada sepuluh hari terakhir bulan Romadhan.[29]

Beliau juga bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang shalat pada malam Lailatul Qodr dengan penuh keimanan dan harapan pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.[30]

  1. Ketika bersama para istrinya

Barangsiapa yang memperhatikan keadaan nabi kita di bulan mulia ini, niscaya dia akan mendapati bahwa beliau adalah sebaik-baiknya suami bagi para istrinya. Apa dan bagaimana keadaan beliau bersama para istrinya pada bulan Ramadhan?

1.mengajarkan para istri

Kesibukan beliau sebagai seorang pemimpin ummat tidak menghalangi langkah beliau dalam mengajari para istrinya. Diantara bukti yang menunjukkan hal ini adalah hadits Aisyah ketika bertanya;

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو قَالَ « تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Wahai Rosululloh, bila aku mendapati Lailatul Qodr, apakah yang saya ucapkan?. Nabi bersabda; “Ucapkanlah: Ya Alloh, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampun, maka ampunilah aku”.[31]

Demikian juga hadits Aisyah ketika ditanya oleh seorang wanita: “Mengapa wanita haidh diperintah untuk mengqadha puasa dan tidak mengqadha shalat?” Aisyah menjawab: “Kami mengalami haidh pada zaman Rasululloh, maka kami diperintah untuk mengqodho puasa dan tidak diperintah untuk mengqodho shalat”.[32]

2.Mengerjakan sebagian ibadah bersama keluarga

Nabi adalah suri tauladan terbaik bagi ummatnya. Beliau tidak hanya sibuk mengatur urusan ummat saja, namun masih sempat mengajak keluarga untuk mengerjakan sebagian ibadah. Abu Dzar menuturkan: “Nabi tidak pernah shalat bersama kami, hingga ketika bulan tinggal tiga hari, beliau shalat bersama kami pada malam ketiganya, beliau mengajak keluarga dan istri-istrinya. Beliau menjadi imam bagi kami, hingga kami khawatir hampir masuk waktu shubuh”.[33]

3.Tetap mesra bersama para istrinya

Walaupun pada siang hari kita dilarang berhubungan badan, akan tetapi kemesraan, kedekatan dan tali kasih sayang kepada istri tetap harus dijaga. Nabi kita pada bulan Ramadhan tidak dingin dan seolah-olah tidak perhatian terhadap istrinya. Namun beliau tetap menjaga hal itu semua, diantaranya beliau tetap mencium dan menunjukkan perhatian kepada istrinya. Hal yang sederhana ini, walaupun kelihatannya ringan namun punya pengaruh kuat dalam jiwa istri.

Aisyah menuturkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقَبِّلُ فِى رَمَضَانَ وَهُوَ صَائِمٌ.

Adalah Rasulullah mencium para istrinya dan beliau sedang puasa Ramadhan.[34]

  1. Perhatian beliau terhadap ummat

1.Mengajarkan perkara tentang puasa

Mengajarkan, membimbing dan mengarahkan adalah tugas para Nabi dan Rasul kepada umatnya. Rasulullah bersabda;

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِى مُعَنِّتًا وَلاَ مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِى مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا

Sesungguhnya Allah tidak mengutusku untuk bersikap keras dan tidak juga mencari kesalahan orang, akan tetapi Allah mengutusku sebagi guru dan memberi kemudahan.[35]

Dalam bulan Ramadhan, beliau selalu mengarahkan ummatnya dalam permasalahan yang mereka butuhkan seputar puasa dan Ramadhan. Diantara contohnya adalah;

Hadits samurah bin Jundub bahwasanya Nabi bersabda:

لاَ يَغُرَّنَّ أَحَدَكُمْ نِدَاءُ بِلاَلٍ مِنَ السَّحُورِ وَلاَ هَذَا الْبَيَاضُ حَتَّى يَسْتَطِيرَ

Jangan kalian tertipu dengan adzannya Bilal pada waktu sahur. Dan jangan pula tertipu dengan bayangan putih ini sampai benar telah membentang.[36]

2.Membantu fakir dan miskin

Bulan Ramadhan adalah bulan kasih sayang dan kedermawanan. Marilah kita contoh pribadi Nabi kita Muhammad dalam hal ini, beliau adalah orang yang paling dermawan dan lebih dermawan lagi apabila di bulan Ramadhan, sehingga digambarkan bahwa beliau lebih dermawan daripada api yang kencang.  Ibnu Abbas berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ

Adalah Rosululloh manusia yang paling dermawan. Beliau sangat dermawan jika bulan Romadhan.[37] Allahu A’lam

[1] Penulis banyak mengambil manfaat dari risalah Hakadza Kana an-Nabiy Fi Ramadhan, Faishal bin Ali al-Ba’dani

[2] HR.Bukhari: 1967,Muslim: 782

[3] Majmu Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 20/22-23

[4] Majmu’ Fatawa 25/290

[5] HR.Ahmad 12/59, Nasai 4/129. Syaikh al-Albani berkata: “Hadits Shahih Lighairih”. Lihat Shahih at-Targhib 1/490, Tamamul Minnah hal.395 keduanya oleh al-Albani.

[6] Lihat secara luas masalah ini dalam risalah Hukmu at-Tahniah Bi Dukhuli Syahri Romadhan, Yusuf bin Abdul Aziz at-Thorifi, karena beliau telah mengumpulkan dalil-dalil dan ketarangan para ulama yang membolehkan hal ini.

[7] Lathoiful Ma’arif hal.279.

[8] Al-Wajiz Fi Fiqhi as-Sunnah wal Kitab al-Aziz hal.196-197, DR.Abdul Azhim Badawi

[9] Hilal itu muncul pada malam pertama, kedua dan ketiga di awal bulan, kemudian setelahnya menjadi bulan. (as-Shihah 5/1851, al-Jauhari).

[10] As-Sailul Jaror 2/114, as-Syaukani, Akhshoru al-Mukhtashoroot hal.161, Muhammad bin Badruddin bin Balban

[11] HR.Abu Dawud no.2342, Ibnu Hibban: 3447, Hakim 1/423,  Nashbur Royah 2/443. Hadits ini Shahih Lihat al-Irwaa: 908 oleh al-Albani

[12] HR.Bukhari: 1909, Muslim: 1081.

[13] Sunan at-Tirmidzi hadits no.691.

[14] As-Sunan wal Mubtada’at Fil I’baadaat hal.196, Amr Abdul Mun’im Salim

[15] Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah menukil kesepakatan para sahabat bahwa metode hisab tidak bisa jadi sandaran dalam penentuan awal bulan dan keluarnya. Majmu Fatawa (25/207). Lihat pula Fathul Bari (4/127), Fatawa Lajnah Daimah (6/114), Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz (15/68).

[16] Lihat pembahasan menarik tentang batilnya metode hisab secara luas dalam Ahkam al-Ahillah hal.127-147 oleh Ahmad bin Abdullah al-Furaih

[17] Ittihaf Ahli Iman Bi Durus Syahri Romadhan hal.9-10, DR.Sholih Fauzan

[18] Zaadul Ma’ad 2/29.

[19]  Yaitu kaki mereka digantung diatas dan kepala di bawah, seperti ketika tukang jagal menggantung sembelihannya.

[20] HR.Nasai dalam al-Kubra 2/246, Ibnu Hibban 16/536, Ibnu Khuzaimah 3/137, Hakim 1/430. Lihat Shahih at-Targhib 1/492

[21] al-Kabaair hal.157-Tahqiq Masyhur Hasan Salman

[22]HR.Bukhari 4/250, Muslim 759

[23] HR.Bukhari: 2013

[24] Zaadul Ma’ad 2/82

[25] HR.Bukhari: 2041

[26] HR.Muslim: 1175

[27] HR.Muslim: 1174

[28] Fathul Bari 4/266

[29] HR.Bukhari: 2020, Muslim: 1169

[30] HR.Bukhari: 2014, Muslim: 760

[31] HR.Tirmidzi: 3513, Ibnu Majah: 3850. Dishohihkan oleh al-Albani dalam al-Misykah no.2091

[32] HR.Bukhari: 321, Muslim: 335.

[33] HR.Tirmidzi: 806 dll. Lihat takhrij lengkapnya dalam Shalat Taraawih hal.15, al-Albani

[34] HR.Muslim: 1106

[35] HR.Muslim: 1478

[36] HR.Muslim: 1094

[37] HR.Bukhari: 6, Muslim: 2308

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *