Fatwa

Hukum Mayit Mengambil Manfaat Dari Bacaan Al Qur'an

Monday, 08 November 2010 01:15
Print PDF
Tajuk fatwa : Hukum Mayit Mengambil Manfaat Dari Bacaan Al Qur'an
Nomor fatwa : 12
Tanggal penambahan : Kamis 5 Jumadilakhir  1425 H.  bertepatan dengan  22 Juli 2004 M.
Pihak pemberi fatwa : Fatwa Syekh Mahmud Syaltut
Sumber fatwa : [Kumpulan fatwa, halaman 202]
Soal:
Banyak orang yang membaca Al Qur'an kemudian menghadiahkannya kepada mayit. Apakah hal itu bermanfaat baginya?
Jawab :

Ayat-ayat dan hadis-hadis:

Masalah ini dikenal dengan masalah menghadiahkan pahala ibadah kepada orang mati. Para ulama berselisih dalam hal ini. Sumber perselisihan ini adalah bahwa di dalam Al Qur'an terdapat ayat-ayat yang menerangkan sunah Allah dalam pahala dan hukuman, dan penggantian kejelekan dengan kebaikan. Dan juga terdapat hadis-hadis sahih yang jelas yang menerangkan bahwa kedua orang tua mengambil manfaat dari sedekah anaknya, puasanya, atau hajinya.

Di antara ayat-ayat itu adalah firman Allah: Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. [Al Baqarah:286], dan firman-Nya sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya [Asy-Syams:9-10] serta firman-Nya: (kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan [Al Furqaan:70] serta firman-Nya: Maka apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari Al Qur'an)?, serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi? Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang gaib sehingga dia mengetahui (apa yang dikatakan)? Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa?, dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?, (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. [An Najm:33-41]

Ayat-ayat ini dan yang semisal dengannya menjelaskan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi manusia kecuali dengan usahanya dan perbuatannya yang menyucikan dirinya dengan niat yang baik dan ikhlas kepada Allah.

Read more...  

Tuduhan Orang Yang Menganggap Bahwa Imam Malik Telah Mengafirkan Orang Yang Menulis Mushaf Tidak Dengan Rasam (Ejaan) Usman Adalah Tuduhan Yang Salah.

Monday, 08 November 2010 01:10
Print PDF
Tajuk fatwa : Tuduhan Orang Yang Menganggap Bahwa Imam Malik Telah Mengafirkan Orang Yang Menulis Mushaf Tidak Dengan Rasam (Ejaan) Usman Adalah Tuduhan Yang Salah.
Nomor fatwa : 11
Tanggal penambahan : Kamis 5 Jumadilakhir  1425 H.  bertepatan dengan  22 Juli 2004 M.
Pihak pemberi fatwa : Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiah
Sumber fatwa : [Kumpulan fatwa, jilid 13, halaman 420]
Soal:
Ibnu Taimiah ditanya tentang seseorang yang mengatakan tentang Imam Malik, bahwa dia berkata: Barang siapa yang menulis mushaf dengan selain tulisan Usman maka dia telah berdosa. Atau berkata: Telah kafir. Apakah ini benar?

Kebanyakan Al Qur'an yang ada sekarang ditulis tidak dengan tulisan Usman. Apakah seseorang dibolehkan untuk menulisnya tidak dengan tulisan Usman dengan syarat bahwa dia tidak mengganti lafalnya dan tidak mengubah maknanya, atau tidak boleh?

Jawab :

Syaikhul Islam Taqiuddin Abu Al-'Abbas Ahmad bin Taimiah berkata: Segala puji hanyalah bagi Allah. Penukilan dari Malik tentang pengkafiran orang yang melakukannya adalah merupakan kebohongan atas Malik, sama saja apakah yang dimaksudkan adalah penulisan kaligrafi atau lafalnya. Malik pernah berkata tentang Anggota Syura: "Sesungguhnya masing-masing dari mereka mempunyai mushaf yang berbeda dengan tulisan mushaf Usman. Dan mereka terlalu mulia untuk ditujukan perkataan ini bagi mereka. Mereka itu adalah: Ali bin Abi Thalib, Zubair, Thalhah, Saad, Abdurrahman bin 'Auf, bersama Usman".

Mengenai pembacaan Al Qur'an dengan salah satu cara yang berbeda dengan Mushaf Usman, Imam Malik dan Ahmad disebutkan dalam dua riwayat bahwa mereka pernah melakukan hal itu. Dan sebagian besar ulama menjadikan apa yang mereka lakukan itu sebagai dalil dan argumentasi. Maka bagaimana mungkin orang yang melakukannya dikafirkan?

Adapun mengikuti bentuk tulisan mushaf, yang mana ditulis dengan huruf Kufi, tidak ada kewajiban bagi kaum Muslimin untuk mengikutinya. Begitu pula dengan mengikuti penulisannya dengan wawu dan alif.

Adapun pengkafiran orang yang menulis lafal mushaf dengan bentuk tulisan yang biasa dilakukannya, saya tidak mengetahui adanya satu orang pun yang mengatakan pengkafiran terhadap orang yang mengerjakannya. Tetapi mengikuti tulisan mereka adalah lebih baik. Begitulah yang dinukil dari Malik dan yang lainnya. Wallahu A'lam.

 

Bercanda Saat Membaca Al Qur'an

Monday, 08 November 2010 01:09
Print PDF
Tajuk fatwa : Bercanda Saat Membaca Al Qur'an
Nomor fatwa : 90
Tanggal penambahan : Kamis 5 Jumadilakhir  1425 H.  bertepatan dengan  22 Juli 2004 M.
Pihak pemberi fatwa : Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiah
Sumber fatwa : [Mustadrak 'ala Majmu' fatawa Ibnu Taimiah, jilid 1 (Akaid-Hadis), dikumpulkan, disusun dan dicetak oleh Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim, halaman 171-172]
Soal:
Bolehkah bercanda saat membaca Al Qur'an?
Jawab :

Canda yang dibolehkan di luar membaca Al Qur'an seperti yang tersebut dalam suatu riwayat "Bercanda tetapi tetap berkata benar dan tidak mengandung kebohongan dan permusuhan" tidak diperbolehkan pada saat membaca Al Qur'an. Sebaliknya harus dihindarkan darinya. Tidak setiap yang dibolehkan di luar waktu membaca Al Qur'an dibolehkan di dalamnya, sebagaimana tidak semua yang dibolehkan di luar salat dibolehkan di dalamnya. Apalagi yang mengganggu pembaca atau pendengar dari merenungkan dan memahami Al Qur'an, seperti debat kusir dan tertawa. Bahkan bermain dan tertawa saat membaca Al Qur'an adalah termasuk perbuatan orang-orang musyrik. Allah berfirman Dan orang-orang yang kafir berkata: "Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur'an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka). [Fushshilat:26] dan Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. [Al Jaatsiyah:9] serta Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu menertawakan dan tidak menangis? [An Najm:59-60].

Dalam ayat-ayat itu orang mukmin disifati dengan menangis dan khusyuk saat membaca Al Qur'an.

Dari itu, barang siapa yang tertawa saat membaca Al Qur'an telah berbuat seperti orang musyrik. Barang siapa yang diperingatkan tentang hal itu jangan sampai menjawab: "Kamu ini memusuhi saya" tetapi hendaknya dia menaati Allah dan Rasul-Nya dan tidak menjadi seperti orang yang apabila dikatakan kepadanya "Bertakwalah kepada Allah" malah berbangga dengan dosanya.

 

Page 5 of 7

<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 Next > End >>

Hadits Arba'in

Larangan Berbuat Dholim

Dari Abu Dzar Al-Ghifari rodhiallohu ‘anhu dari Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda meriwayatkan firman Alloh ‘azza wa jalla, bahwa Dia berfirman, “Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya

Read more...
Bersuci adalah Separuh Keimanan

Dari Abu Malik Al-Harits bin Ashim Al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu, Dia berkata: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan ‘Al

Read more...
Laksanakan Syariat Islam

Dari Abu Abdillah Jabir bin Abdullah Al-Anshori rodhiallohu ‘anhu. Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam, “Apa pendapatmu bila aku telah sholat lima

Read more...
Istiqomahlah

Dari Abu Amr - ada yang mengatakan Abu Amrah - Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi rodhiallohu ‘anhu. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, Katakanlah kepadaku suatu perkataan tentang Islam, yang tidak

Read more...
Milikilah Sifat Malu

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri rodhiyallohu ‘anhu Dia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal

Read more...
Mintalah Pertolongan Kepada Alloh

Dari Abul Abbas Abdulloh bin Abbas rodhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam Lalu beliau bersabda , “Nak, aku akan ajarkan kepad

Read more...