Sunday, 27 May 2012 10:21 Artikel - Fiqh
Print PDF

Di antara bulan Islam, yang ditetapkan kemuliaannya dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah bulan Rajab. Namun sungguh sangat disesalkan beredarnya riwayat – riwayat yang dho’if dan palsu seputar bulan Rajab serta amalan – amalan khusus di bulan Rajab di tengah masyarakat kita. Hal ini dijadikan senjata oleh para pecandu bid’ah mempromosikan kebid’ahan – kebid’ahan ala jahiliyah di muka bumi ini. Berikut ini ulasan ringkas seputar amalan bid’ah pada bulan Rajab.[1]

  1. Riwayat Seputar Rajab

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata : “Tidak ada hadits shohih yang dapat dijadikan hujjah seputar amalan khusus di bulan Rajab, baik puasa maupun sholat malam dan sejenisnya. Dan dalam menegaskan hal ini, aku telah didahului oleh Imam Abu Ismail Al Harowi Al Hafidz, kami meriwayatkan darinya dengan sanad shohih, demikian pula kami meriwayatkan dari selainnya”[2]

Al hafidz telah mengumpulkan hadits – hadits seputar Rajab, maka beliau mendapatkan sebelas hadits berderajat dho’if da dua puluh hadits berderajat palsu/maudhu’. Berikut ini kami nukilkan sebagian hadits dho’if dan maudhu’ tersebut.

 

Sesungguhnya di surge ada sebuah sungai yang dinamakan “Rajab”, warnanya lebih putih dari susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barang siapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, niscaya Alloh akan memberinya  minum dari sungai tersebut (hadits dho’if).

Rosululloh apabila shollallohu alaihi wasallam apabila memasuki bulan Rajab, beliau berdoa: "Ya Alloh berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban serta sampaikanlah kami hingga bulan Romadhon." (Hadits dho’if)

Bulan Rajab adalah milik Alloh, Sya’ban adalah bulanku, dan Romadhon adalah bulan umatku. (hadits dho’if)

Keutamaan bulan Rajab dibandingkan semua bulan seperti keutamaan Al Qur’an atas semua dzikir. (Hadits Maudhu’)

Barangsiapa berpuasa pada bulan Rajab dan sholat empat rokaat pada bulan tersebut… niscaya dia tidak meninggal hingga melihat tempat tinggalnya. Di surga atau diperlihatkan untuknya. (Hadits Maudhu’)

Itulah sedikit contoh hadits – hadits dho’if dan maudhu’ seputar bulan Rajab. Sengaja kami nukil secara ringkas karena maksud kami hanya untuk memberikan isyarat dan perhatian saja, bukan membahas secara terperinci.

B. Shalat Ragha’ib

Sholat Ragha’ib adalah sholat yang dilaksanakan pada malam jumat pertama bulan Rajab, tepatnya antara sholat maghrib dan isya’ dengan di dahului puasa hari Kamis, dikerjakan dengan 12 rokaat. Pada setia rokaat membaca surat Al Fatihah sekali, surat Al Qodr 3 kali dan surat Al Ikhlas 12 kali…  dan seterusnya.

Sifat sholat seperti di atas tadi di dukung oleh sebuah riwayat dari shahabat Anas bin Malik yang dibawakan secara panjang oleh Imam Ghozali dalam Ihya Ulumuddin I/203 dan beliau menamainya “Sholat Rajab” seraya berkata : “Ini adalah sholat yang disunnahkan.”

Demikianlah perkataannya-semoga Alloh mengampuninya-, padahal para pakar hadits telah sepakatdalam satu kata bahwa hadits – hadits tentang sholat ragha’ib adalah maudhu’.

Untuk menguatkan kebid’ahan sholat Ragha’ib ini, penulis nukilkan perkataan dua imam masyhur di kalangan madzhab Syafi’I yaitu Imam Nawawi dan Imam Suyuthi rohimahullah.

  1. Imam Nawawi berkata : “sholat yang dikenal dengan sholat Ragha’ib dua belas rokaat antara maghrib dan Isya’ awal malam Jum’at bulan Rajab serta sholat malam Nisfu Sya’ban seratus rokaat, termasuk bid’ah mungkar dan jelek. Janganlah tertipu dengan disebutnya kedua sholat tersebut dalam kitab Qutul Qulub dan Ihya Ulumuddin (Oleh Al Ghozali) dan jangan tertipu pula oleh hadits yang termaktub pada kedua kitab tersebut. Sebab, seluruhnya merupakan kebathilan.”[3]
  2.  Imam Suyuthi berkata : “Ketahuilah-semoga Alloh merahmatimu-, mengagungkan hari dan mala mini (Rajab)merupakan perkara yang diada-adakan dalam Islam, yang bermula setelah 400 H. Memang ada riwayat yang mendukungnya, namun haditsnya maudhu’menurut kesepakat para ulama. Riwayat tersebut intinya tentang keutamaan puasa dan sholat pada bulan Rajab yang dinamai dengan sholat Ragha’ib. Menurut pendapat para pakar, dilarang mengkhususkan bulan ini (Rajab) dangan puasaaa dan sholat bid’ah (sholat Ragha’ib) serta segala jenis pengagungan terhadap bulan ini seperti membuat makanan, menampakkan perhiasan, dan sejenisnya. Supaya bulan ini tidak ada bedanya seperti bulan – bulan lainnya.”[4]

C. Perayaan Isra Mi’raj

Setiap tanggal 27 Rajab, perayaan Isra Mi’raj sudah merupakan sesuatu yang tak dapat terlupakan di masyarakat kita sekarang. Bahkan, hari tersebut menjadi hari libur nasional. Oleh karena itu, mari kita mempelajari masalah ini dari dua tinjauan : tinjauan sejarah dan tinjauan syari’at untuk merayakannya.

  1. Tinjauan Sejarah Munculnya Isra Mi’raj

Dalam tinjauan sejarah waktu terjadinya Isra Mi’raj masih diperdebatkan oleh para ulama. Jangankan tanggalnya, bulannya saja masih diperselisihkan hingga kini. Al Hafidz Ibnu Hajar Al As Qolani memaparkan perselisihan tersebut dalam Fathul Bari (7/203) hingga mencapai lebih dari sepuluh pendapat. Ada yang berpendapat bahwa Isra Mi’raj terjadi pada bulan Romadhon, Syawwal, Robbi’ul Awwal, Robbi’uts Tsani…. Dan seterusnya.

Al Imam Ibnu Katsir menyebutkan dari Az Zuhri dan Urwah bahwa Isra Mi’raj terjadi setahun sebelum Nabi hijrah ke kota Madinah, yaitu bulan Robbi’ul Awwal. Adapun pendapat As Suddi, waktunya adalah enam belas bulan sebelum hijrah, yaitu bulan Dzulqo’dah. Al Hafidz Abdul Ghani bin Surur Al Maqdisi membawakan dalam sirohnya yang tidak shohih sanadnya tentang waktu Isra Mi’raj pada tanggal 27 Rajab. Dan sebagian manusia menyangka bahwa Isra Mi’raj terjadi pada malam Jum’at pertama bulan Rajab, yaitu malam Ragha’ib, yang ditunaikan pada malam tersebut sebuah sholat yang masyhur tetapi tidak ada aslanya.[5]

2. Tinjauan Syari’at

Ditinjau  dari segi syari’at, jika memang benar Isra Mi’raj terjadi pada 27 Rajab, bukan berarti waktu tersebut harus dijadikan sebagai malam perayaan denga pemabcaan kisah – kisah palsu tentang Isra Mi’raj. Bagi seseorang yang tidak mengikuti hawa nafsunya, tidak akan ragu bahwa hal tersebut termasuk perkara bid’ah dalam Islam. Sebab perayaan tersebut tidaklah dikenal di masa Shahabat, Tabi’in, dan para pengikut setia mereka. Islam hanya memiliki tiga hari raya; Idul Fitri, Idul Adha setiap satu tahun dan hari Jum’at setiap satu minggu. Selain tiga ini, tidak termasuk agama Islam secuilpun.[6]

Samahatusy syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Malam Isra Mi’raj tidak diketahui waktu terjadinya. Karene seluruh riwayat tentangnya tidak ada yang shohih menurut pakar ilmu hadits. Di sisi Alloh lah hikmah di balik semua ini. Kalaulah memang diketahui waktunya, tetap tidak boleh bagi kaum muslimin mengkhususkannya dengan ibadah dan perayaan. Sebab, hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para shahabatnya. Seandainya disyari’atkan, pastilah Nabi menjelaskannya kepada umat, baik denga perkataan maupun perbuatannya….”[7]

D. Mengkhusukan Puasa di Bulan Rajab

Termasuk perkara bid’ah di bulan Rajab, mengkhususkan puasa bulan Rajab. Karena tidak ada hadits shohih yang mendukungnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun Mengkhususkan puasa di bulan Rajab, seluruh haditsnya lemah dan palsu. Ahli ilmu tidak menjadikannya sebagai sandaran sedikitpun.”[8]

Imam Suyuthi berkata, “Mengkhususkan bulan Rajab dengan puasa, dibenci. Asy Syafi’I berkata, Aku Membenci bila seseorang menyempurnakan puasa sebulan penuh seperti puasa Romadhon. Demikian pula mengkhususkan suatu hari di hari – hari lainnya…”. Allohu a’lam

Dikutip dari : Majalah Al Ilmu Edisi Perdana

website       : http://majalahalilmu.wordpress.com/



[1] Diringkas oleh Abu Aniisah Syahrul Fatwa dari buku Ensiklopedi Amalan Sunnah Di Bulan Hijriyah, karya Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi dan Abu Abdillah Syahrul Fatwa, cet. Pustaka Darul Ilmi

[2] Tabyin ‘Ajab Bima Waroda Fii Rojab (6)

[3] Al Majmu’ Syarh Muhadzdzab 3/549

[4] Al Amru bil Ittiba’ hal 166 - 167

[5] Al Bidayah Wa Nihayah (3/108-109). Cet. Maktabah Al Ma’arif

[6] At Tamassuk bis Sunnah Nabawiyah (33-34) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

[7] At Tahdzir minal Bida’ hal 9 oleh Syaikh Ibnu Baz

[8] Majmu’ Fatawa 25/290


Newer news items:
Older news items:

Hadits Arba'in

Larangan Berbuat Dholim

Dari Abu Dzar Al-Ghifari rodhiallohu ‘anhu dari Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda meriwayatkan firman Alloh ‘azza wa jalla, bahwa Dia berfirman, “Wahai hamba-hambaku, sesungguhnya

Read more...
Bersuci adalah Separuh Keimanan

Dari Abu Malik Al-Harits bin Ashim Al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu, Dia berkata: Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan ‘Al

Read more...
Laksanakan Syariat Islam

Dari Abu Abdillah Jabir bin Abdullah Al-Anshori rodhiallohu ‘anhu. Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam, “Apa pendapatmu bila aku telah sholat lima

Read more...
Istiqomahlah

Dari Abu Amr - ada yang mengatakan Abu Amrah - Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi rodhiallohu ‘anhu. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, Katakanlah kepadaku suatu perkataan tentang Islam, yang tidak

Read more...
Milikilah Sifat Malu

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri rodhiyallohu ‘anhu Dia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya sebagian ajaran yang masih dikenal

Read more...
Mintalah Pertolongan Kepada Alloh

Dari Abul Abbas Abdulloh bin Abbas rodhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Suatu hari aku berada di belakang Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam Lalu beliau bersabda , “Nak, aku akan ajarkan kepad

Read more...