7 Golongan Yang Mendapat Naungan Allah

Dalam hadits shahih yang dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim disebutkan:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى الْمَسَاجِدِ وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّى أَخَافُ اللَّهَ. وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ 

Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi bersabda: Tujuh golongan Allah akan beri naungan kepada mereka pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungannya; (1) Pemimpin yang Adil, (2) Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, (3) Seorang yang hatinya terikat dengan masjid, (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, berpisah dan berkumpul karenanya, (5) Seorang yang diajak berbuat buruk oleh wanita yang cantik lagi terhormat, kemudian dia berkata: sungguh aku takut kepada Allah, (6) Seorang yang sedekah dan menyembunyikan sedekahnya, sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, (7) Seorang yang mengingat Allah di kesunyian hingga matanya mencucurkan air mata.[1]

Mari kita bahas satu per satu.

1. Pemimpin yang Adil

Bukan perkara yang ringan jika kita diberi amanah untuk memimpin. Tanggung jawab besar sudah menanti di pelupuk mata. Penyesalan dan kehinaan yang diraih jika amanat ini disia-siakan begitu saja. Karena setiap pemimpin akan ditanya akan kepemimpinannya. Allah berfirman:

فَوَرَبِّكَ لَنَسۡ‍َٔلَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (QS. Al-Hijr: 92-93).

Menjadi pemimpin yang adil adalah keharusan. Adil secara bahasa adalah menghukumi dengan benar. Yaitu pertengahan antara sifat berlebihan dan meremehkan.[2]

Sungguh keadilan adalah asas tegaknya kebaikan di muka bumi, dan kecurangan, zhalim, adalah asas kejelekan dalam setiap perkara. Allah berfirman mengisahkan Nabi Syu’aib:

وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِۖ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ

Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan. (QS. Huud: 85).

Allah juga berfirman:

۞إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan. (QS. An-Nahl: 90).

Allah juga berfirman:

يَٰدَاوُۥدُ إِنَّا جَعَلۡنَٰكَ خَلِيفَةٗ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱحۡكُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ ٱلۡهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَضِلُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدُۢ بِمَا نَسُواْ يَوۡمَ ٱلۡحِسَابِ

Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. As-Shaad: 26).

Seorang pemimpin sejati adalah yang mampu berbuat adil dan bijaksana dalam mengurus bawahannya, membagi pekerjaan secara adil, tidak memberatkan dan membebani di luar kesanggupannya. Selalu mawas diri untuk tidak berbuat aniaya, karena zhalim adalah kegelapan pada hari kiamat. Rasulullah bersabda:

اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 

Takutlah kalian berbuat zhalim, karena kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.[3]

Seorang pemimpin sejati selalu ingat akan pahala yang besar bagi yang berbuat adil ketika memimpin. Rasulullah bersabda:

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِى حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil akan ditempatkan di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya yang berada di sisi kanan Allah, kedua tangan Allah adalah kanan. Mereka itu adalah orang-orang yang berbuat adil dalam hukumnya, keluarganya dan yang berada dibawah urusannya.[4]

 

2. Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah

Di zaman yang kebanyakan para pemuda lalai akan ibadah, lalai akan akhirat dan berpaling dari agama. Maka pemuda yang tumbuh dalam ibadah pantas mendapatkan pahala yang besar. Ingatlah wahai saudaraku, jangan tertipu dengan masa muda, masa muda yang semua manusia akan ditanya tentang hal ini, Rasulullah bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتىَّ يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ ؟ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ ؟ وَمَالَهُ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ ؟ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ ؟ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

 

Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabbnya hingga ditanya lima perkara; tentang umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa digunakan, hartanya dari mana di dapat dan kemana disalurkan, serta ilmunya apa yang ia perbuat.[5]

3. Seorang yang hatinya terikat dengan masjid

Masjid adalah tempat yang paling dicintai oleh Allah. Rasulullah bersabda:

أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا

 

Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid. Dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar.[6]

Memakmurkan masjid adalah tanda keimanan, tanda baiknya hati seseorang. Karena masjid akan memberikan kerinduan dan ketenangan bagi yang mendatanginya. Allah berfirman:

إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah: 18).

Rasulullah bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنْ الْجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ

 

Barangsiapa yang pergi ke masjid, di pagi hari atau sore hari, maka Allah akan persiapkan rumah di surga setiap kali dia ke masjid pagi atau sore.[7]

4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, berpisah dan berkumpul karena-Nya

Sungguh Allah telah memberikan nikmat persaudaraan bagi kaum muslimin. Allah berfirman:

وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا

Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara. (QS. Ali Imran: 103).

Jika persaudaraan kita antarkaum muslimin karena Allah, maka akan langgeng dan abadi, adapun persaudaraan karena ada tendensi dunia atau tujuan yang lain maka tidak akan lama dan akan mudah putus. Allah berfirman:

ٱلۡأَخِلَّآءُ يَوۡمَئِذِۢ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS. Az-Zukhruf: 67).

Hal itu karena persahabatan dan kecintaan mereka di dunia bukan karena Allah, maka jadilah pada hari kiamat persahabatan tersebut berubah menjadi permusuhan.[8]

Dua orang yang saling mencintai karena Allah, itulah sejatinya pertemanan, orang yang melakukan ini berarti telah merasakan manisnya iman. Rasulullah bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

 

“Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka”.[9]

5. Seorang yang diajak berbuat buruk oleh wanita yang cantik lagi terhormat, kemudian dia berkata; sungguh aku takut kepada Allah

Fitnah wanita adalah fitnah yang sangat dahsyat bagi kaum laki-laki. Rasulullah bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

 

Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.[10]

Imam al-Mubarakafury mengatakan: “Bentuk fitnah wanita bagi laki-laki tercermin dari jiwa ini yang lebih banyak condong kepada kaum wanita, bahkan jiwa bisa terjatuh dalam keharaman karena sebab mereka, dan banyak juga terjadinya permusuhan dan peperangan karena sebab mereka. Bahaya wanita yang paling ringan adalah kaum wanita akan mendorong seorang lelaki untuk cinta dunia. Kejelekan apa lagi yang lebih berbahaya dari pada ini?”.[11]

Sungguh di dalam kisah Nabi Yusuf terdapat pelajaran yang berharga akan hal ini. Allah berfirman:

وَرَٰوَدَتۡهُ ٱلَّتِي هُوَ فِي بَيۡتِهَا عَن نَّفۡسِهِۦ وَغَلَّقَتِ ٱلۡأَبۡوَٰبَ وَقَالَتۡ هَيۡتَ لَكَۚ قَالَ مَعَاذَ ٱللَّهِۖ إِنَّهُۥ رَبِّيٓ أَحۡسَنَ مَثۡوَايَۖ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ

Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan Dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (QS. Yusuf: 23).

Sahabat mulia Ibnu Mas’ud berkata: “Wanita adalah jerat dan perangkap yang dipakai setan”.[12]

6. Seorang yang sedekah dan menyembunyikan sedekahnya, sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.

Sedekah menghapus kesalahan. Rasulullah bersabda:

وَ الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ اْلمَاءُ النَّارَ.

Dan sedekah menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan api.[13]

 

Namun, pada asalnya, hendaknya seorang muslim menyembunyikan amalan shalih yang ia kerjakan. Hal ini demi menjaga keikhlasan dan terbebas dari kotoran yang dapat merusak nilai ibadah. Maka amalan ibadah seperti shalat sunnah, sedekah, puasa dan sebagainya tidak kita ceritakan atau kita pamerkan kepada orang lain kecuali apabila menampakkan amalan ibadah tersebut membawa maslahat dan manfaat yang besar. Allah berfirman:

إِن تُبۡدُواْ ٱلصَّدَقَٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۖ وَإِن تُخۡفُوهَا وَتُؤۡتُوهَا ٱلۡفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّ‍َٔاتِكُمۡۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya, dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 271).

Saudaraku seiman, ketahuilah, para generasi salaf mereka sangat takut jika beramal hanya ingin dilihat oleh orang lain. Karena tanda ikhlas seseorang adalah dengan menyembunyikan amalannya.

Berkata sahabat yang mulia Zubair bin A’wwam: “Barangsiapa diantara kalian yang mampu merahasiakan amalannya yang shalih, maka hendaklah ia mengerjakannya”.[14]

Imam Ibnul Jauzy berkata: “Sungguh sangat sedikit orang yang ikhlas beramal karena Allah, karena kebanyakan manusia cinta untuk pamer dalam ibadah mereka”.[15]

Dikisahkan bahwa Ali bin Husain selalu membawa roti di kegelapan malam untuk dibagikan kepada fakir miskin. Beliau berkata: “Sesungguhnya sedekah di kegelapan malam akan menghilangkan kemurkaan Rabb Azza wa Jalla”, kemudian beliau mengutip ayat di atas.[16]

7. Seorang yang mengingat Allah di kesunyian hingga matanya mencucurkan air mata.

Rasulullah bersabda:

لاَ يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ تَعَالَى

 

Tidak akan masuk neraka seorang yang menangis karena takut kepada Allah.[17]

Yaitu tidak akan masuk neraka seorang yang menangis karena takut kepada Allah, karena umumnya orang yang takut kepada Allah akan melaksanakan ketaatan dan meninggalkan maksiat.[18]

Rasulullah juga bersabda:

عَيْنَانِ لاَ تَمَسُّهُمَا النَّارُ عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ

 

Dua mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang siaga karena berjaga di jalan Allah.[19]

Ibnu Abi Dunya berkata: “Sesungguhnya tangisan akan memadamkan lautan api. Jika tangisan itu mengalir di pipi orang yang menangis maka wajah tersebut tidak akan tersentuh api neraka. Tidaklah seorang yang menangis karena Allah, melainkan anggota badannya yang lain akan tunduk dan khusyu”.[20]

Wahai saudaraku, berhati-hatilah terhadap kerasnya hati. Hati seorang manusia ibarat raja. Dialah yang mengatur jalannya kehidupan seseorang. Bila hati sudah keras, tidak menerima nasihat dan peringatan, maka pertanda kehancuran sudah dekat. Allah berfirman:

۞أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Hadiid: 16).

Ibnu Abbas menafsirkan tentang ayat ini: “Mereka cenderung kepada dunia dan berpaling dari peringatan Allah”.[21]

Imam Ibnu Katsir mengatakan: “Telah datang waktunya bagi kaum mukminin untuk tunduk hati mereka ketika mengingat Allah, yaitu hati mereka tunduk dan lembut ketika mengingat Allah, nasihat, mendengar al-Qur’an, hati mereka memahami dan patuh, mendengar dan taat”.[22]

Penyebab kerasnya hati berkisar pada lima perkara: banyak bergaul, banyak angan-angan, bergantung kepada selain Allah, banyak makan, dan banyak tidur.[23]

Maka, sebagaimana badan apabila merasakan sakit tidak akan bermanfaat makanan dan minuman, demikian pula hati bila telah sakit maka tidak akan berguna nasihat dan peringatan. Oleh karena itu wahai saudaraku, jika anda menginginkan hati anda bersih dan sehat maka hendaklah dia selalu mengutamakan Allah daripada mendahulukan syahwatnya. Maka hati yang selalu terikat syahwatnya dia akan terhalangi dari Allah sesuai kadar keterikatannya kepada syahwat tersebut.[24]

Waspadalah wahai saudaraku dari kelalaian yang telah menjadikan kehidupanmu ada batasnya, yang telah menjadikan hari-hari dan nafasnya waktu, dan setiap selain itu ada suatu kepastian, yang engkau harus menghadapinya.[25]

Allahu A’lam.

Abu Aniisah Syahrul Fatwa bin Lukman 

[1] HR.Bukhari: 660, Muslim: 2427

[2] At-Tauqiif Ala Muhimmat at-Ta’ariif hal.506

[3] HR.Muslim: 6576

[4] HR.Muslim: 4825

[5] HR.Tirmidzi: 2416 dll. Syaikh al-Albani menshahihkan hadits ini dalam as-Shohihah: 946

[6] HR.Muslim: 1560

[7] HR.Bukhari: 662, Muslim: 1556

[8] Taisir al-Karim ar-Rahman 2/743

[9] HR.Bukhari: 16, Muslim: 43

[10] HR.Bukhari: 5096, Muslim: 2740

[11] Tuhfatul Ahwadzi 8/53

[12] Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah: 34552

[13] HR.Tirmidzi 2616, Ahmad 5/230, Ibnu Majah 3973, Hakim 2/412, Ibnu Hibban 214 dll. Lihat al-Irwaa no.413, Syaikh al-Albani

[14] Az-Zuhd, Abi Dawud hal.119. Lihat Min Akhbar as-Salaf hal.8, Ma’alim Fiss Suluk Hal.88

[15] Shaidul Khathir hal.226

[16] Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 3/135, lihat pula Jami’ul Ulum wal Hikam 2/140, Ibnu Rajab.

[17] HR.Tirmidzi: 1333, Nasai: 2911. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Al-Misykah no.3828

[18] Tuhfatul Ahwadzi 6/148

[19] HR.Tirmidzi: 1338, Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Misykah no.3829

[20] Ar-Riqqah Wal Bukaa’ hal.48

[21] Tafsir al-Baghawi 4/327, Dar.Thoyyibah

[22]Tafsir Ibnu Katsir 8/19, Tahqiq: Sami as-Salamah

[23] Madarijus Salikin 1/370

[24] Al-Fawaid hal.128

[25] Al-Fawaid hal.129

Social Media

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on telegram
Telegram
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on print
Print
Share on email
Email
Ahsan Muslim Media

Ahsan Muslim Media

Mendekatkan Keluarga Kepada Sunnah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

On Key

Related Posts

Bahagia Di Usia Senja – Surat Fathir: 37

Oleh Ustadz Aunur Rafiq Bin Ghufran, Lc. حفظه الله تعالى Allah subhanahu wata’ala berfirman:  وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ

Jalan Menuju Kemulian Akhlak

Oleh Ustadz Fariq bin Gasim Anuz حفظه الله تعالى Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  كَمَآأَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُوا عَلَيْكُمْ ءَايَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

Menahan Amarah

Oleh : Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Luqman حفظه الله تعالى Geram, kesal, dan panas hati ini ketika melihat segerombolan pemuda berandal berkerumun dipos ronda asyik memainkan

Celakalah Anak Yang Durhaka

┈┉┉━━━ ❁﷽❁ ━━━┉┉┈ 📋 “CELAKALAH ANAK YANG DURHAKA” Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى Janganlah kita menjadi anak yang durhakaIngatlah: “Ridha Allah