9 Hal Yang Harus Diperhatikan Oleh Pendidik Anak

Mendidik anak bisa dibilang gampang-gampang sulit. Mudah dan gampang bagi yang tulus dan mau berusaha dalam memahami jiwa anak, sulit bagi yang kurang sabar dan serba tidak mau repot. Perkara apa saja yang harus diperhatikan oleh seorang pendidik anak. Ikutilah kajian berikut ini.[1]

Pertama: Mendidik anak adalah ibadah

Hal ini harus kita sadari, bahwa seorang ibu dan bapak yang mendidik anak-anaknya, berarti dia sedang mengerjakan sebuah aktivitas ibadah yang agung. Rasa capek, banting tulang cari nafkah, begadang malam, mengajarinya bahkan membuat anak senang dengan canda dan tawa adalah ibadah. Perhatikan sabda Nabi berikut ini:

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

Dinar yang engkau infakkan ke jalan Allah, dinar yang engkau salurkan kepada budak, dinar yang engkau infakkan kepada orang miskin dan dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu, maka yang lebih besar pahalanya adalah dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu.[2]

Dahulu ada seorang salaf yang tekun beribadah dan mencurahkan hidupnya untuk ketaatan, dia berkata kepada seorang yang punya banyak anak—dan orang ini merasa iri dengan ibadahnya—: “sungguh Engkau mengurusi anakmu adalah lebih baik daripada apa yang aku lakukan.”[3]

Ada seorang yang bertanya kepada Syaikh Ibnu Utsaimin: “aku punya empat anak, dan aku ingin mencukupkan hanya empat saja, karena aku ingin fokus ibadah dan ketaatan, bagaimana pendapat anda?”

Beliau menjawab: “Engkau mendidik anakmu dengan pendidikan yang saleh adalah ibadah.”[4]

Kedua: Ikhlas

Harus ikhlas dalam mendidik anak. Niatnya hanya mencari ridho Allah, mencari pahala, bukan karena tergiur dengan manisnya dunia. Kita melihat sebagian orang tua, ketika menyekolahkan anaknya, yang tertanam dalam hati agar si anak dapat ijazah dan pekerjaan yang layak sehingga bisa punya harta banyak dan kedudukan di dunia. Hal ini perlu diluruskan. Yang pertama harus tertanam di hati orang tua adalah mencari pahala dengan mendidik anaknya, adapun dapat ijazah, harta dan kehidupan yang layak hanya sebagai pengikut saja bukan tujuan asalnya. Perhatikanlah perkara ini wahai saudaraku, karena niat merupakan asas dalam segala amalan.

Ketiga: Doakan anak

Doa perkaranya sangat menakjubkan. Sungguh para Nabi dan Rasul mereka mendoakan anak dan istri mereka. Allah mengisahkan:

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada Kami istri-istri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74).

Bahkan sejak pertama bayi dilahirkan di dunia ini, hendaknya para orang tua mendoakan anak mereka agar terjaga dari gangguan setan. Allah mengisahkan:

فَلَمَّا وَضَعَتۡهَا قَالَتۡ رَبِّ إِنِّي وَضَعۡتُهَآ أُنثَىٰ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا وَضَعَتۡ وَلَيۡسَ ٱلذَّكَرُ كَٱلۡأُنثَىٰۖ وَإِنِّي سَمَّيۡتُهَا مَرۡيَمَ وَإِنِّيٓ أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

Maka tatkala istri ‘Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: “Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” (QS. Ali Imron: 36).

Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلاَّ وَالشَّيْطَانُ يَمَسُّهُ حِينَ يُولَدُ ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ إِيَّاهُ ، إِلاَّ مَرْيَمَ وَابْنَهَا

Tidaklah seorang anak yang terlahir melainkan setan akan menyentuhnya ketika baru lahir. Menjadilah anak itu menangis karena sebab sentuhan setan kepadanya kecuali Maryam dan anaknya.[5]

Betapa banyak berawal dari doa orang tua, anak menjadi baik dan saleh. Maka bersungguh-sungguhlah wahai para pendidik anak untuk mendoakan anak-anakmu, pilihlah waktu-waktu yang mustajab. Janganlah engkau mendoakan kebinasaan atau kejelekan untuk anak-anakmu, seperti ucapan sebagian orang tua yang secara tidak sadar mengatakan; duuh! bandelnya anakku ini; anak saya memang nakal; dan sebagainya. Padahal doa orang tua kepada anak termasuk doa yang mustajab. Rasulullah bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ : دَعْوَةُ الوَالِدِ وَ دَعْوَةُ الصَّائِمِ وَ دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua, doa orang yang puasa dan doa orang musafir (bepergian).[6]

Keempat: Melaksanakan akikah jika mampu

Karena akikah salah satu sebab kebaikan bagi seorang anak. Dari Samurah bin Jundub bahwasanya Rasulullah bersabda:

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Setiap bayi tergadaikan dengan akikahnya. Disembelihkan kambing pada hari ke-7, dicukur rambutnya serta diberi nama.[7]

Maksud tergadaikan di sini adalah tertahan dari suatu kebaikan  yang seharusnya diperoleh jika ia diakikahi. Karena seorang bisa kehilangan memperoleh kebaikan karena perbuatannya sendiri atau karena perbuatan orang lain.[8]

Kelima: Cari nafkah yang halal

Bagi orang tua hendaknya berusaha mencari rezeki yang halal. Karena bagaimanapun juga, harta yang haram punya pengaruh jelek bagi jiwa seorang anak.

Dari Ka’ab bin Ujrah bahwasanya Rasulullah bersabda:

يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ وَدَمٌ نَبَتَا عَلىَ سُحْتٍ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Wahai Ka’ab sesungguhnya tidak akan masuk surga daging dan darah yang tumbuh dari harta haram, neraka lebih berhak baginya”.[9]

Janganlah orang tua menyangka bahwa harta haram itu tidak punya pengaruh apa-apa terhadap anak-anaknya, jiwa yang bersih dan saleh terlahir dari benih dan sumber yang halal. Perhatikanlah wahai saudaraku!

Keenam: Hidupkan rumah dengan pelajaran keimanan

Usahakan sebisa mungkin ada majelis nasihat bagi seluruh anggota keluarga. Bisa bakda shalat ashar, maghrib atau isya. Dalam majelis ini, ayah menyampaikan santapan rohani berupa ayat Al-Quran beserta penjelasan ringkasnya, hadits nabi beserta maksud sederhananya, atau cerita shahabiyah yang menggugah jiwa yang disampaikan oleh ibu. Dari majelis ini akan tertanam dalam jiwa anak perasaan cinta Allah dan Rasul. Perasaan senang terhadap islam dan aqidah yang lurus. Silakan anda mencobanya sekarang dan petiklah hasilnya—insya Allah—!

Ketujuh: Teladan yang baik

Teladan yang baik merupakan perkara terpenting dalam mendidik anak. Contoh sederhana, bagaimana mungkin seorang anak rajin shalat jika orangtuanya malah melalaikan shalat?! Baik dan salehnya kedua orang tua merupakan penjagaan bagi anak-anaknya dari kerusakan saat keduanya masih hidup atau setelah matinya. Cermati baik-baik ayat berikut ini:

وَأَمَّا ٱلۡجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَٰمَيۡنِ يَتِيمَيۡنِ فِي ٱلۡمَدِينَةِ وَكَانَ تَحۡتَهُۥ كَنزٞ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَٰلِحٗا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبۡلُغَآ أَشُدَّهُمَا وَيَسۡتَخۡرِجَا كَنزَهُمَا رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ وَمَا فَعَلۡتُهُۥ عَنۡ أَمۡرِيۚ ذَٰلِكَ تَأۡوِيلُ مَا لَمۡ تَسۡطِع عَّلَيۡهِ صَبۡرٗا

Sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Rabbmu. (QS. Al-Kahfi: 82).

Kedelapan: Sabar

Banyak orang yang lalai dalam masalah ini. Kesabaran adalah kunci sukses dalam mendidik anak. Bersabarlah terhadap tangisan anak dan teriakannya, jangan marah. Bersabarlah ketika anak sakit, carilah pahala dengan sakitnya. Bersabarlah dalam memberi nasihat dan bimbingan jangan bosan. Bersabarlah dalam mengurus dan mendidik anak-anakmu, karena semua itu adalah jalan perjuangan yang mulia, Allah berfirman:

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut: 69).

Kita semua hanya diperintahkan untuk mendidik anak, adapun hidayah maka di tangan Allah. Semangatlah dalam mengambil sebab, bersabarlah, engkau akan melihat hasil baiknya dalam waktu dekat—insya Allah—!

Kesembilan: Kenali karakter anak

Setiap anak punya karakter dan sifat yang berbeda-beda. Maka dalam mendidik anak, kita harus bisa mengenali karakter anak kita. Anak yang cenderung penakut, pemalu maka jangan Anda paksakan untuk cepat bergaul atau aktif di kelas ketika belajar. Demikian juga jika anak itu aktif, ceriwis, maka kita harus sabar dalam menjawab setiap pertanyaannya. Dan anak yang pendiam, penurut, maka Andalah yang harus banyak berkreasi untuk mengembangkan kemampuan anak. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang diberi kekuatan untuk menerima kebenaran dan mengikutinya.

Allahu A’lam

Abu Aniisah Syahrul Fatwa bin Lukman

================================

[1] Penulis banyak mengambil manfaat dari risalah Lamhaat Fi Tarbiyah al-Banaat, Abdul Malik al-Qashim dengan tambahan seperlunya.

[2] HR.Muslim: 995

[3] Lamhaat Fi Tarbiyah al-Banaat hal.14-15, Abdul Malik al-Qashim

[4] idem

[5] HR.Bukhari: 4548, Muslim: 2366

[6] HR.Baihaqi 3/345 dan lain-lain. Dicantumkan oleh oleh al-Albani dalam as-Shohihah no.1797

[7] HR.Abu Dawud: 2837, Timidzi: 1522, Nasa’I: 4217, Ahmad 5/8, Ibnul Majah: 3165, dll. Dishahihkan oleh Abdul Haq sebagaimana dalam at-talkhis 4/1498 oleh Ibnu Hajar.

[8] Tuhfatul Maudud hal.122-123, Ibnul Qoyyim

[9] HR.Ahmad 3/321, Ibnu Hibban 5567, Hakim 4/141. Syaikh al-Albani berkata: Hadits shahih lighairih, lihat Shahih Targhib: 867

Social Media

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on telegram
Telegram
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on print
Print
Share on email
Email

Most Popular

Categories

Social Media

Ahsan Muslim Media

Ahsan Muslim Media

Mendekatkan Keluarga Kepada Sunnah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

On Key

Related Posts

Keutamaan Ilmu

Oleh: Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman   Ilmu adalah apa yang difirmankan oleh Alloh, disabdakan oleh Rasululloh serta disebarkan oleh para ‘Ulama mulai dari

Kaidah-Kaidah Ringkas Seputar Tauhid

Oleh Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman   Tujuan diciptakannya manusia adalah memurnikan peribadahan hanya kepada Alloh. Karena tujuan yang besar ini, diutuslah para rasul

Berakhlak Mulia Kepada Allah

Oleh Abu Abdillah Syahrul Fatwa Kedudukan Akhlak Dalam Islam Sungguh agama Islam telah menempatkan akhlak mulia sebagai sifat yang sempurna,  karena Alloh rabbul a’lamin sangat

Hukum Bermain dan Menonton Sepak Bola

Oleh Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman   Hingar bingar piala dunia telah membius seluruh lapisan masyarakat. Gaungnya berbunyi di seluruh pelosok negeri bahkan dunia.