Kaidah-Kaidah Ringkas Seputar Tauhid

Oleh Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman حفظه الله تعالى

 

Tujuan diciptakannya manusia adalah memurnikan peribadahan hanya kepada Alloh. Karena tujuan yang besar ini, diutuslah para rasul yang tugasnya mengajak manusia agar mentauhidkan Alloh. Tauhid adalah jalan kebahagiaan manusia di dunia dan akherat. Namun, perkara yang agung ini sangat sedikit sekali yang memahaminya. Manusia banyak yang terjebak dalam praktik kesyirikan tanpa mereka sadari!!. Disinilah letak pentingnya pembahasan kita kali ini, bagaimana kita memahami tauhid dengan benar lewat kaidah-kaidah ringkas. Semoga bermanfaat.

Kaidah Pertama

Mengapa Alloh Menciptakan Manusia Dan Jin?

Ini adalah pertanyaan yang agung, jawabannya juga jawaban yang besar. Yaitu Alloh menciptakan kita dan mengadakan kita di dunia ini untuk beribadah kepadaNya saja tidak menyekutukanNya dengan siapapun. Kita mendapat nikmat karena tujuan ini, jiwa kita menjadi tenang, dan kita akan sukses dengan mendapat surganya pada hari kiamat bagi orang-orang yang memenuhi perintah ini. Alloh berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS.adz-Dzariyaat: 56).

Untuk mewujudkan tujuan yang mulia, Alloh mengutus para rasulnya, menurunkan kitabnya yang berisi syariat dan perintah terhadap tujuan mulia ini. Alloh berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ 

Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”. (QS.al-Anbiyaa: 25).

Alloh juga berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَۖ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, (QS.an-Nahl: 36).

Thagut adalah seluruh yang disembah selain Alloh, berupa pepohonan, batu, patung, atau manusia yang disembah dan dia ridha, seperti Fir’aun dan Namrud. Adapun yang tidak ridha untuk disembah seperti para Nabi, orang-orang yang shalih, maka mereka bukan thagut, thagut itu adalah setan yang mengajak untuk menyembahnya.

 

Kaidah Kedua

Tidak Sah Ibadah Kecuali Dengan Tauhid

Tidak sah ibadah berupa shalat, puasa, menyembelih, dzikir jika tidak karena Alloh dan tidak menyekutukanNya, ini adalah tauhid, memurnikan ibadah hanya kepada Alloh tidak kepada selainnya. Alloh berfirman:

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَن يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَىٰ أَنفُسِهِم بِالْكُفْرِۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ 

Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. (QS.at-Taubah: 17).

Alloh menegaskan bahwa syirik bisa membatalkan ibadah;

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ 

Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi. (QS.az-Zumar: 65).

Inilah dakwah para nabi kepada kaumnya hingga tujuannya tercapai yaitu shalat hanya untuk Alloh saja, puasa karena Alloh saja, menyembelih hanya untuk Alloh saja dan seterusnya dari macam-macam ibadah.

Kaidah Ketiga

Syirik Adalah Dosa Yang Paling Besar Dan Bahaya Secara Mutlak

Diantara bahayanya, syirik akan membatalkan amalan seseorang jika dia mati dalam keadaan melakukan kesyrikan. Alloh tidak akan mengampuni dosanya jika dia tidak taubat sebelum matinya. Alloh berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا 

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisaa; 48).

Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh dosa berada di bawah kehendak Alloh, jika Alloh berkehendak maka Alloh bisa mengampuninya atau memberinya siksa, kecuali dosa syirik, maka Alloh tidak akan mengampuninya sama sekali. Perhatikan ayat berikut ini yang menunjukkan bahayanya kesyirikan, Alloh berfirman:

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُۚ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ 

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS.al-Maidah: 72).

Kaidah Keempat

Kesyirikan Seperti Apa Yang Wajib Kita Waspadai?

Syirik kepada Alloh adalah menjadikan sekutu dan tandingan bagi Alloh dalam perkara yang menjadi kekhususan Alloh. Perkara yang menjadi kekhususan Alloh itu ada tiga jenis;

Pertama: Rububiyyah

Yaitu Alloh pengatur segala sesuatu, yang maha esa dalam menciptakan. Kekuasaan, pengaturan, adanya manfaat dan madharat, menghidupkan dan mematikan adalah kekhususan Alloh. Alloh berfirman:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ 

Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS.al-A’rof: 54).

Ayat ini menunjukkan Alloh maha esa dalam penciptaan, perintah, larangan dan hukum syar’i.

Alloh adalah pemilik mutlak kekuasaan di permukaan bumi. Alloh berfirman:

وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ 

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu. (QS.Ali Imran: 189).

Bahkan dalam ayat yang lain, Alloh menegaskan bahwa Dialah yang maha mengatur tidak ada sekutu baginya. Alloh berfirman:

يُدَبِّرُ الْأَمْرَۖ مَا مِن شَفِيعٍ إِلَّا مِن بَعْدِ إِذْنِهِۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُۗ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ 

Mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?. (QS.Yunus: 3).

Alloh juga menjelaskan, bahwa Dialah satu-satunya yang memiliki manfaat dan madharat. Tidak ada seorangpun dari makhluknya yang bisa memberi manfaat kepada orang lain atau memberi madharat. Alloh berfirman:

وَإِن يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِۚ يُصِيبُ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِۚ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ 

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, Maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.Yunus: 107).

Kedua: Uluhiyyah

Yaitu Alloh satu-satunya yang berhak diibadahi, tidak ada yang disembah kecuali Alloh, tidak boleh disembah seorangpun dari makhluknya, tidak boleh memalingkan sedikitpun dari jenis ibadah kepada selain Alloh. Alloh berfirman:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي 

Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku. (QS.Thahaa: 14).

Alloh juga berfirman;

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ 

Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS.al-Baqarah: 163).

Dialah Alloh yang Maha Hidup, dialah yang berhak diibadahi, Alloh berfirman:

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ 

Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; Maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. (QS.Ghafir: 65).

Bahkan kita hanya boleh beribadah kepadanya saja, kita selalu berkata dalam shalat;

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ 

Hanya Engkaulah yang Kami sembah. (QS.al-Fatihah: 5).

Yaitu kita tidak beribadah kecuali hanya kepadamu.

Ketiga: Asma Dan Sifat

Yaitu Alloh mempunyai sifat yang tidak sama dengan sifat para makhluk. Dan mempunyai nama yang tidak bisa dimutlakkan kecuali miliknya. Alloh berfirman:

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. nanti mereka akan mendapat Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS.al-A’rof: 180).

Alloh juga menjelaskan bahwasanya tidak ada yang serupa dan sama dengan sifat Alloh, Alloh berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat. (QS.as-Syuraa: 11).

Dalam ayat ini Alloh menetapkan bagi dirinya mendengar dan melihat, dan dua sifat ini tidak serupa dengan pendengaran dan penglihatan para makhluk.

Inilah tiga perkara yang menjadi kekhususan Alloh yang tidak boleh disekutukan kepada selain Alloh.

Maka barang siapa yang mengambil sekutu bersama Alloh dalam Rububiyahnya, seperti orang yang meyakini disana ada yang mampu menciptakan, memberi manfaat dan madharat selain Alloh maka dia telah berbuat kesyirikan. Karena dia telah meyamakan Alloh dalam hal penciptaan, memberi manfaat dan madharat kepada selainnya.

Demikian pula barangsiapa yang mengambil sekutu bagi Alloh dalam ibadah, seperti yang menyembah kepada selain Alloh, berdo’a kepada mayyit yang telah meninggal, beristighasah kepadanya, atau menyembelih untuk selain Alloh, bernadzar kepada selain Alloh, sungguh dia telah berbuat syirik, karena dia telah mengambil sekutu bersama Alloh dalam ibadah kepadaNya.

Demikian pula barangsiapa yang menyekutukan Alloh dalam nama dan sifatnya, seperti orang yang berkeyakinan bahwa pada makhluknya ada yang memiliki kekuatan seperti kekuatan Alloh, atau ada orang yang bisa mengetahui suara seperti Alloh maka sungguh dia telah berbuat syirik, karena telah menyamakan Alloh degan makhluknya dalam nama dan sifatnya.

Walhasil, tidaklah seseorang hamba dikatakan sebagai orang mukmin yang bertauhid melainkan dia mentauhidkan Alloh dari segala sisinya. Barangsiapa yang menyekutukan Alloh dalam suatu perkara atau satu jenis ibadah maka batallah tauhidnya.

Kaidah Kelima

Do’a –diantaranya Istighatsah- termasuk jenis ibadah yang paling agung

Do’a kepada Alloh, Istighatsah dan memohon perlindungan kepadanya adalah termasuk jenis ibadah yang paling agung. Do’a ada dua jenis:

Pertama: Do’a dengan lisan hal yaitu seluruh ibadah seperti shalat, puasa dan selainnya.

Kedua: Do’a dengan lisan berupa ucapan, seperti memohon hajat kebutuhan kepada Alloh dengan permintaan dan kerendahan diri.

Alloh berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ 

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina”. (QS.Ghafir: 60).

Alloh juga berfirman:

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ 

Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; Maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. (QS.Ghafir: 65).

Do’a dalam ayat ini mencakup dua jenis dari dari do’a. Alloh memerintahkan agar kita ikhlas dalam doa, tidak berdo’a kecuali kepada Alloh, tidak disembah kecuali Alloh, tidak diminta, bersandar dan istighatsah kecuali kepadaNya. Alloh berfirman:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا 

Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS.Jin: 18).

Dalam ayat ini disebutkan “Ahadan”, yang dalam kaidah bahasa disebut isim nakirah, dan isim nakirah jika terletak pada redaksi larangan, maka menunjukkan keumuman, yaitu; tidak boleh diminta do’a bersama Alloh kepada seorangpun sama sekali.

Alloh berfirman juga:

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ 

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?. (QS.al-Ahqaaf: 5).

Oleh karena itu, maka do’a, istighatsah adalah murni hak Alloh, tidak boleh dipalingkan kepada selain Alloh, maka barangsiapa yang berdo’a kepada selain Alloh, beristighatsah dan memohon perlindungan kepada selain Alloh maka sungguh dia telah beribadah kepada selain Alloh.

Kaidah Keenam

Boleh berdo’a kepada makhluk dengan dua syarat; makhluk tersebut hidup, hadir dan tidak ghaib. Dan makhluk tersebut mampu

Barangsiapa yang berdo’a kepada makhluk, beristighatsah kepadanya, dan orang tersebut hidup, hadir dan mampu maka dia tidak termasuk beribadah kepada selain Alloh. Seperti orang yang minta tolong kepada orang lain yang hadir. Sebagaimana bani Israail minta tolong kepada nabi Musa, Alloh berfirman:

فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِن شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ

Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya Maksudnya: tengah hari, di waktu penduduk sedang istirahat. (QS. Al-Qashas: 15).

Kesimpulannya, berdo’a kepada selain Alloh bisa menjadi syirik jika dalam tiga kedaan;

Keadaan Pertama: Meminta kepadanya dalam perkara yang dia tidak mampu kecuali Alloh saja.

Seperti meminta hidayah hati, pengampunan dosa, kehadiran anak, turunnya hujan. Alloh berfirman:

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا عِندَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَّعْلُومٍ 

Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. (QS.al-Hijr: 21).

Keadaan Kedua: Berdo’a kepada mayyit dan meminta kepadanya

Alloh berfirman:

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ  (١٣) إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ  (١٤)

Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui. (QS.Fathir: 13-14).

Keadaan Ketiga: Berdo’a kepada orang yang tidak ada (ghaib)

Karena tidak ada yang bisa mengetahui suara dan permohonan hamba kecuali Alloh, tidak ada yang bisa menolong kesulitan orang ketika tidak ada yang diminta kecuali Alloh. Alloh berfirman:

أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمۚ بَلَىٰ وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ 

Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? sebenarnya (kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka. (QS.az-Zukhruf: 80).

Kaidah Ketujuh

Barangsiapa yang memalingkan satu jenis ibadah kepada selain Alloh maka dia telah berbuat syirik kepada Alloh, sama saja dia berkeyakinan bahwa yang diibadahi memiliki manfaat dan madharat atau yang disembah hanya sebagi perantara untuk meraih syafa’at di sisi Alloh.

Sesungguhnya setiap orang yang beribadah kepada selain Alloh, seperti orang yang beristighatsah kepada selain Alloh dengan para mayyit atau orang yang ghaib. Atau dia menyembelih kepada selain Alloh, atau bernadzar kepada selain Alloh sungguh dia telah berbuat syirik kepada Alloh.

Tidak ada bedanya orang yang beribadah kepada selain Alloh dengan keyakinan bahwa yang diibadahi dapat memberi manfaat dan madharat atau dia beribadah kepada selain Alloh untuk menjadikannya wasilah agar mendapat syafaat dari Alloh, dia tidak meyakini yang diibadahi bisa memberi manfaat dan madharat kecuali Alloh, maka hukum keduanya sama, mereka telah berbuat syirik kepada Alloh.

Dalil akan hal itu, bahwa orang-orang musyrik yang diperangi oleh Nabi adalah orang-orang yang meyakini bahwa Alloh adalah yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, memberi manfaat dan madharat akan tetapi hal itu tidak membuat mereka masuk Islam. Perhatikan firman Alloh sebagai berikut:

قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الْأَمْرَۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ 

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”. (QS.Yunus: 31).

Kaidah Kedelapan

Tidak ada bedanya dalam hal menyembah kepada selain Alloh, baik yang diibadahi malaikat, manusia, jin, batu atau pepohonan.

Setiap yang beribadah kepada selain Alloh dengan satu jenis dari jenis-jenis ibadah maka sungguh dia telah berbuat syrik kepada Alloh, sama saja yang diibadahi manusia, jin, atau patung. Maka yang disebut selain Alloh mencakup seluruh selain Alloh dari makhluknya.

Allohu A’lam. Bersambung

Social Media

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on telegram
Telegram
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on print
Print
Share on email
Email
Ahsan Muslim Media

Ahsan Muslim Media

Mendekatkan Keluarga Kepada Sunnah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

On Key

Related Posts

Bahagia Di Usia Senja – Surat Fathir: 37

Oleh Ustadz Aunur Rafiq Bin Ghufran, Lc. حفظه الله تعالى Allah subhanahu wata’ala berfirman:  وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ

Jalan Menuju Kemulian Akhlak

Oleh Ustadz Fariq bin Gasim Anuz حفظه الله تعالى Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  كَمَآأَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُوا عَلَيْكُمْ ءَايَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

Menahan Amarah

Oleh : Ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Luqman حفظه الله تعالى Geram, kesal, dan panas hati ini ketika melihat segerombolan pemuda berandal berkerumun dipos ronda asyik memainkan

Celakalah Anak Yang Durhaka

┈┉┉━━━ ❁﷽❁ ━━━┉┉┈ 📋 “CELAKALAH ANAK YANG DURHAKA” Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى Janganlah kita menjadi anak yang durhakaIngatlah: “Ridha Allah